rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Kejadian Epistaksis Posterior et causa Curiga Hipertensi dan Kelainan Kardiovarkuler Seperti apa ?


Dilaporkan suatu kasus epistaksis posterior di rsud temanggung pada seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan keluhan keluar darah dari hidung yang tidak berhenti sejak 8 jam sebelum masuk rumah sakit, darah mengalir dirasakan sampai keluar dari mulut. Penderita tampak lemah dan kesakitan dengan tekanan darah 140/90 mmhg. Pada pemeriksaan fisik telinga tidak ada kelainan.  Cairan darah mengalir dari kedua lubang hidung, mukosa menebal, hiperemi, konka hipertrofi dan nyeri pada palpasi, tidak didapatkan krepitasi. Pada tenggorokan terdapat sekret darah, post nasal drip, lender, dan tonsil tidak membesar. Dari pemeriksaan darah rutin menunjukkan angka dalam batas normal. Rotgen thorax menggambarkan pulmo dalam batas normal dan kardiomegali. CT scan sinus paranasal posisi water’s ditemukan sinusitis maksilaris et etmoidalis, suspect perdarahan atau massa. Penderita ini didiagnosis epistaksis posterior et causa curiga hipertensi dan kelainan kardiovarkuler. Diberikan terapi infus ringer laktat 24 tetes per menit, pasang bellocq tampon, obat hemostatik, antibiotik, dan analgetik.

Kata Kunci:  epistaksis –epistaksis posterior- hipertensi- kardiovaskuler-belloq tampon




Kasus
Seorang laki-laki berumur 45 tahun datang dengan keluhan keluar darah dari hidung yang tidak berhenti sejak 8 jam sebelum masuk rumah sakit, darah mengalir dirasakan sampai keluar dari mulut. Penderita merasakannya secara tiba-tiba disertai pusing, mual tetapi tidak muntah. Pasien belum melakukan penanganan apapun kecuali membersihkan darah yang mengalir. Penderita mengaku belum pernah mengalami keluhan serupa, tidak ada riwayat operasi, tidak menjalani pengobatan jangka panjang, tidak ada riwayat trauma, penyakit serius maupun alergi. Penderita tampak lemah dan kesakitan dengan tekanan darah 140/90 mmHg. Pada pemeriksaan fisik telinga, hidung, dan tenggorokan didapatkan sebagai berikut:
Telinga
Auricula: tampak tenang, tidak ada kelainan congenital, tidak ada tanda-tanda peradangan, tidak fistula, sikatrik, edema, benjolan, hiperemi. CAE: serumen – otore-, membrane timpani utuh.
Hidung
Cairan darah mengalir dari kedua lubang hidung, mukosa menebal, hiperemi, septum deviasi (-), konka hipertrofi, nyeri pada palpasi, krepitasi (-)
Tenggorokan
Orofaring: tidak ada tanda-tanda peradangan, tidak ada jaringan granulasi, edema (-) sekret darah (+), post nasal drip (+), tonsil T1-T1, lateral band, lendir (+), penebalan mukosa (-), palatum mole: tidak ada tanda-tanda peradangan.
Dari pemeriksaan darah rutin menunjukkan angka dalam batas normal. Rotgen thorax menggambarkan pulmo dalam batas normal dan kardiomegali. Pada CT scan sinus paranasal posisi water’s ditemukan sinusitis maksilaris et etmoidalis, lesi inhomogen di intracavum nasi, choane, faring, nasofaring sampai orofaring proximal suspect perdarahan atau massa. Setelah anamnesa dan serangkaian pemeriksaan, penderita ini didiagnosis epistaksis posterior et causa curiga hipertensi dan kelainan kardiovarkuler. Diberikan terapi infus Ringer laktat 24 tetes per menit, pasang Bellocq tampon, obat hemostatik, antibiotik, dan analgetik.

Diskusi
Epistaksis adalah perdarahan yang keluar dari lubang hidung, rongga hidung, dan nasofaring. Penyakit ini disebabkan oleh kelainan lokal maupun sistemik. Epistaksis ini merupakan masalah klinis yang berbahaya terutama bila berasal dari bagian hidung paling dalam yaitu arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis posterior. Sering terjadi pada usia lanjut yang menderita hipertensi, arteriosclerosis, atau penyakit kardiovaskuler. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti spontan, namun seringkali menunjukkan gejala yang tidak terlalu khas seperti mual, muntah darah, batuk darah, dan anemia. Pada epistaksis posterior, sebagian besar darah masuk ke mulut sehingga pemasangan tampon anterior tidak dapat menghentikan perdarahan.
Epistaksis dapat disebabkan oleh kelainan lokal dan umum atau kelainan sistemik diantaranya trauma, infeksi, neoplasma, kelainan congenital, benda asing dan perforasi septum, pengaruh lingkungan, kelainan darah (trombositopenia, hemofilia, leukemia), penyakit kardiovaskuler, dan gangguan endokrin. Penyebab yang paling mungkin pada penderita ini adalah kelainan vaskuler didukung dengan tekanan darah penderita yang tinggi dan gambaran kardiomegali pada foto thorax. Hipertensi dan kelainan pembuluh darah seperti pada aterosklerosis, nefritis kronik, sirosis hepatis, sifilis, dan diabetes melitus dapat menyebabkan epistaksis. Episteksis akibat hipertensi biasanya hebat, sering kambuh dan prognosisnya tidak baik.
Pemeriksaan yang adekuat menggunakan speculum hidung untuk membersihkan, dan observasi tempat penyebab perdarahan. Pemeriksaan lain yang diperlukan berupa rinoskopi anterior, rinoskopi posterior, rotgen atau CT scan sinus paranasal, dan skrining terhadap koagulopati. Prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi dan berulangnya epistaksis. Perdarahan posterior lebih sulit diatasi karena sumber perdarahan sulit dicari dengan rinoskopi anterior. Untuk mengatasinya dilakukan pemasangan tampon Bellocq. Tampon ini harus menutupi koane (nares posterior). Tampon dipasang selama 2-3 hari disertai dengan pemberian antibiotik peroral untuk mencegah infeksi pada sinus maupun telinga tengah. Pemasangan tampon dapat menyebabkan sinusitis, otitis media dahkan septicemia. Oleh karena itu antibiotic harus selalu diberikan pada setiap pemasangan tampon hidung. Setelah 2-3 hari tampon harus dicabut, meskipun akan dipasang tampon baru bila masih ada perdarahan. Selama pemasangan tampon, kenyamanan pasien akan terganggu sehingga perlu diberikan analgetik atau sedative untuk mengontrol rasa nyeri. Disamping tindakan ini juga bisa diberikan hemostatik untuk membantu menghentikan perdarahan. Sebagai akibat perdarahan yang hebat dapat terjadi anemia dan syok serta turunnya tekanan darah yang mendadak dapat menimbulkan masalah pada jantung sehingga harus diberikan infus atau transfusi darah secepatnya. Pada epistaksis berat dan berulang yang tidak dapat diatasi dengan pemasangan tampon anterior maupun posterior dapat dilakukan ligasi arteri.


Kesimpulan
Telah dilaporkan kasus epistaksis posterior pada seorang laki-laki 45 tahun penderita hipertensi dan kelainan kardiovaskuler yang ditangani dengan tampon Bellocq, hemostatik, antibiotic, dan analgetik.

Referensi
Admin. 2009 Epistaksis. Diakses pada tanggal 9 Agustus 2009 dari http://medlinux. blogspot.com/2009/02/epistaksis.html
Ichsan, M. 2001 Penatalaksanaan Epistaksis. Laboratorium/SMF Bagian Telinga, Hidung, dan Tenggorokan. Fakultas Kedokteran Syah Kuala. Aceh
Nuty & Endang. 2002 Buku Ajar Ilmu THT, Kepala dan Leher edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FK UI.



0 comments:

Post a Comment