rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Trauma Kapitis

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Trauma kapitis adalah cedera yang dapat menyebabkan kerusakan yang kompleks di kulit kepala, tulang tempurung kepala, selaput otak, dan jaringan otak itu sendiri. Insiden trauma dan penyakit akibat kerja didunia menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Setiap tahun 180.000 pekerja meninggal dunia dan 100 juta mengalami cedera kecelakaan kerja. Akibatnya, besar sekali pengaruhnya terhadap social-ekonomi dalam masyarakat, terutama terhadap pekerja dan keluarganya.1

Setiap tahun diperkirakan sekitar 0,3-0,5 % penduduk dunia mengalami trauma kepala. Di republik Hungaria yang berpenduduk 12 juta jiwa saja, menurut statistik tiap tahun terjadi 50.000 cidera kepala. Dari semua cidera kepala tersubut  ± 5% di antaranya disertai dengan pendarahahn otak. Kejadian ini terhitung lebih tinggi daripada biasanya (Hungaria Helth Ministri Weekly News No. 9, 1984) di Republik Federasi Jerman yang berpenduduk 60 juta jiwa waktu itu, setiap tahun tercatat 150.000-200.000 korban dengan trauma kapitis. Dari jumlah tersebut 30.000-50.000 diantaranya mengalami trauma kapitis berat, dan labih dari 10.000 dianatranya disertai dengan perdarahan intracranial. Sebanyak 14.000 diantaranya meninggal setiap tahun.1
Insidensi di Amerika Serikat setiap tahunnya mencapai 1 juta kejadian. Dan diperkirakan kejadian cedera kepala sekitar setiap 15 detik.
Diantaranya sekitar 375.000 jiwa dirawat di rumah sakit, 50.000 jiwa meninggal, dan sekitar 100.000 jiwa dikategorikan sebagai cedera kepala sedang sampai berat.
Dan diperkirakan sekitar lebih dari 5,3 juta jiwa mengalami gangguan kemampuan secara menetap yang diakibatkan oleh cedera kepala.
            Kejadian  yang paling tersering di Amerika Serikat yiatu mengenai pengendara sepeda motor dan pejalan kaki, yaitu mencapai sekitar 50 % dari angka kejadian keseluruhan. Kemudian kejadian jatuh, mencapai sekitar 20 %, dan selebihnya pada kejadian tertembak serta akibat kecelakaan olahraga. Angka kejadian tertinggi terjadi di daerah perkotaan yang padat. 2

I.2. TUJUAN PENULISAN.
            Tujuan penulisan referat ini adalah untuk bisa menentukan angka kesakitan dan kematian pada cedera kepala berdasarkan derajat berat ringannya cedera kepala menurut angka statistik yang terdaftar di Rumah Sakit Prof.DR. Margono Soekarjo Purwokerto periode tahun 2000 - 2002, sehingga bisa mengetahui prognosis dari cedera kepala berdasarkan angka statistik.   


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Cedera kepala atau Traumatic Brain Injury adalah suatu keadaan yang bukan disebabkan oleh penyakit degeneratif atau bawaan, tetapi disebabkan oleh kejadian eksternal oleh trauma fisik yang bisa menyebabkan gangguan kesadaran. Akibatnya terjadi gangguan kognitif, emosi,  tingkah laku dan fungsi tubuh yang mungkin bisa menjadi permanent, baik parsial ataupun total.2   

II.1. ANATOMI FISIOLOGI.
            Otak terdiri dari dua bagian sisi, yaitu otak sisi kanan dan sisi kiri. Sisi sebelah kanan bertanggung jawab terhadap tubuh bagian kiri, dan sebaliknya sisi bagian kiri bertanggung jawab terhadap tubuh bagian kanan.3
Otak sisi kanan
Otak sisi kiri
• Mengenal dan memastikan objek di sekeliling kita.
• Mengenal posisi tubuh
• Memahami dan mengingat segala tindakan dan penglihatan.
• Menyimpan sebagian memori informasi untuk kemudian bisa menggambarkan nya.
• Mengontrol sisi kiri    tubuh.
• Memahami dan bisa menggunakan bahasa (mendengarkan, membaca, berbicara, dan menulis)
• Mengingat pembicaraan dan menulis    pesan.
• Bisa memahami sutu informasi secara terperinci.
• Mengontrol sisi kanan tubuh.

Lobus frontal bertanggung jawab atas kontrol emosional dan kepribadian, yang mempengaruhi fungsi motorik, keputusan dan pemecahan masalah, spontanitas, ingatan,  ekspresi dan pemilihan bahasa atau kalimat, inisiatif, serta perilaku sosial dan perilaku sex.3
            Lobus parietal memiliki dua fungsi utama, yaitu yang pertama bertanggung jawab pada sensasi dan persepsi, dan yang kedua bertanggung jawab pada pengintegrasian input sensorik, terutama pada sistem visual. 3
            Lobus temporal bertanggung jawab terhadap kemampuan pendengaran, sebagian persepsi visual, serta pengakategorian objek. 3
            Lobus Occipital merupakan pusat dari system persepsi visual. Sehingga bertanggung jawab pada penglihatan. 3
            Batang otak sangat berperan pada masalah vital, seperti aurosal dan kesadaran. Seluruh informasi yang masuk dan keluar dari tubuh kita menuju dan keluar dari otak mesti melewati batang otak. 3
            Secara garis besar terdapat tiga hal yang mempengaruhi keadaan fisiologis otak, yaitu tekanan intrakranial, tekanan perfusi otak, serta aliran darah otak.
Tekanan intrakranial normal berkisar antara 10 mmHg (136 mm H20). Dan menurut hukum Monro Kellie, hal-hal yang mempengaruhi tekanan intrakranial, yaitu volume darah, volume LCS dan volume jaringan otak adalah berbanding lurus dan bersifat konstan.
Tekanan perfusi otak normal berkisar antara 70 mmHg. Sedangkan aliran darah otak normal berkisar antara 50 ml/100 gr jaringan otak/menit. 4

II. 2. KLASIFIKASI CEDERA KEPALA.
            Cedera kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme terjadinya, berat ringannya, serta morfologinya.4,5
  1. Mekanisme terjadinya :
-          Trauma tumpul, baik kecepatan tinggi misalnya tabrakan kendaraan bermotor atau kecepatan rendah misalnya terjatuh bukan dari ketinggian.
-          Trauma tembus, misalnya trauma akibat tertembus peluru.
  1. Berat ringannya cedera :
Untuk menentukan berat ringannya cedera kepala yang dianggap paling mudah dan lebih obyektif adalah dengan mempergunakan Glasgow Coma Scale. Skala penentuan berat ringannya cedera kepala akan dibicarakan dalam bagian khusus.
  1. Morfologi :
-          Fraktur tengkorak.
·         Kalfaria (kubah), misal fraktur garis – bintang (linear – stelata) yang sering terjadi pada perdarahan epidural,  fraktur depresi dan nondepresi yang sering menyebabkan deficit neurologis, serta fraktur terbuka dan tertutup.
Pada fraktur linier, keadaan fraktur lebih penting karena fraktur yang melewati tulang temporalis dapat merobek pembuluh darah meningeal tengah dan menghasilkan hematoma eksterna.
·         Basis Cranii, baik itu disertai atau tanpa kebocoran liquor, serta dengan atau tanpa disertai parese nervus cranialis.
Fraktur ini dapat meluas ke dalam sinus udara atau telinga tengah dan sering terkait dengan keluarnya darah atau cairan serebrospinal dari hidung dan telinga.
Fraktur pada Krista supra-siliare sering meliputi sinus udara frontal atau sinus udara ethmoid. Sering dinding posterior berkeping-keping dan durameter robek.
-          Lesi Intrakranial.
·         Lesi Supratentorial.
Pada lesi supratentorial, gangguan akan terjadi baik oleh kerusakan langsung pada jaringan otak atau akibat penggeseran dan kompresi pada ARAS karena proses tersebut maupun gangguan vaskularisasi dan edema yang diakibatkan. Proses ini menjalar secara radial dan lokasi lesi kemudian kearah rotasi-kaudal sepanjang batang otak.
Gejala-gajala klinis akan timbul sesuai dengan perjalanan proses tersebut yang dimulai dengan gejala-gejala neurologik foka-kaudal sepanjang batang otak.
Gejala-gajala klinis akan timbul sesuai dengan perjalanan proses tersebut yang dimulai dengan gejala-gejala neurologik fokal sesuia dengan lokasi lesi. Jika keadaan bertambah berat dapat timbul sindrom diensefalon, sindrom mesenfalon, bahkan sindrom ponto-meduler dan deserbasi.
·         Lesi infratentorial.
Pada lesi infratentorial, gangguan dapat terjadi karena kerusakan ARAS baik oleh proses intrinsik pada batang otak maupun oleh proses ekstrinsik.
·         Lesi difus.
Gangguan neurologi pada umumnya bersifat bilateral dan hampir selalu simetrik. Selain itu gejala neurologiknya tidak dapat dilokalisir pada suatu susunan anatomi tertentu pada susunan saraf pusat. Keadaan ini misalnya terjadi pada komosio klasik, komosio ringan, dan cedera akson difus.
Penyebab gangguan pada golongan ini terutama akibat kejadian sekunder misalnya kekurangan O2, kekurangan glukosa, serta gangguan sirkulasi darah.
-          Cedera otak primer dan sekunder.
·         Cedera otak primer terjadi kerusakan otak akibat trauma langsung.
·         Cedera otak sekunder terjadi akibat hipotensi, hipoksia, gangguan aliran darah, serta peningkatan tekanan intrakranial.

II. 3. GAMBARAN KLINIK
            Otak memilki peranan dan bertanggung jawab pada penampilan atau gambaran kebiasaan manusia, yang sangat riskan atau rawan dan mudah untuk terkena cedera akibat trauma. Hal tersebut ternyata menimbulkan perubahan yang signifikan pada fungsi tabiat dan fungsi adaptasi dalam kehidupan sosialnya.
Keadaan-keadaan setelah terjadinya cedera kepala, yang tentunya berpengaruh pada otak bisa menyebabkan defisit dari fungsi otak yang berjangka panjang. Defisit jangka panjang yang dapat terjadi dari cedera pada otak yang dapat terjadi dapat dikategorikan pada tiga kategori, yaitu2 :
  1. Defisit fungsi fisik, misalnya :
·         Paralisis atau parese, baik kedua tangan dan kedua kaki, atau hanya satu bagian sisi tubuh.
·          Kelainan skil motorik, kadang disertai dengan tremor.
·         Ataxia.
·         Diplopia.
·         Gangguan pemendekan area visual.
·         Oral apraxia.
·         Apraxia.
  1. Defisit fungsi kognitif, misalnya :
·         Penurunan daya perhatian dan konsentrasi.
·         Penurunan daya ingat untuk memahami, mempelajari atau mengingat kembali informasi yang baru.
·         Penurunan kemampuan menentukan sikap dan keputusan.
·         Melemahnya kecepatan  proses informasi yang diterima.
·         Pemikiran yang meledak-ledak tanpa peduli akan akibatnya.
·         Kelemahan kemampuan perencanaan.
·         Penurunan konsep berpikir dan berpikir secara abstrak.
·         Kaku dalam berpikir dan mental.
·         Kelemahan dalam pengambilan keputusan terutama keadaan yang menyangkut sosial.
  1. Defisit fungsi tingkah laku, misalnya :
·         Ketidakmampuan untuk menentukan suatu aktivitas.
·         Tidak dapat diam.
·         Gangguan tingkah laku sosial.
·         Impulsif
·         Apatis dan tidak memiliki inisiatif.
·         Ketidakmampuan untuk mengambil pelajaran dari pengalaman.
·         Tidak bisa menolak.
·         Tidak bisa menghargai diri sendiri.

Masa Penyembuhan dan rehabilitasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu2:
  1. Seberapa parah cedera kepala.
  2. Komplikasi medis.
  3. Seberapa lama koma.
  4. Umur pasien.
  5. Waktu antara kejadian dengan penanganan.
  6. Dukungan keluarga.
  7. Komitmen pelayanan medis.

II. 4. PENENTUAN DERAJAT CEDERA KEPALA.
Untuk menentukan derajat cedera kepala dapat digunakan skala Glasgow Coma Scale= GCS, yang pertama kali dikenalkan oleh Teasdale dan Jennet dalam tahun 1974 dan banyak digunakan dalam klinik.  3,4
Pada GCS tingkat kesadaran dinilai menurut 3 aspek :
1. Kemampuan membuka mata           : Eye opening              = E
2. Aktifitas motorik                            : Motor response         = M
3. Kemampuan bicara                         : Verbal respone          = V

  1. Kemampuan Membuka Mata
a. Dapat membuka mata sendiri secara spontan                     : 4
b. Dapat membuka mata atas perintah                                    : 3
c. Dapat membuka mata atas rangsangan nyeri                      : 2
d. Tak  dapat membuka mata atas rangsangan nyeri apapun : 1
  1. Aktivitas Motorik
Dinilai anggota gerak yang memerikan reaksi yang paling baik dan tidak dinilai pada anggota gerak dengan fraktur/kelumpuhan. Biasanya dipilih lengan karena gerakannay lebih bervariasi daripada tungkai.
a. Mengikuti perintah                                                              : 6
            b. Melokalisasi rangsangan                                                     : 5
            c. Menarik ekstremitas yang dirangsang                                 : 4
            d. Fleksi pada perangsangan                                                   : 3
            e. Ekstensi pada perangsangan                                               : 2
            f. Tak ada gerakan                                                                  : 1
  1. Kemampuan bicara
Menunjukkan fungsi otak dengan integrasi yang paling tinggi.
a. orientasi yang baik mengenali orang tempat dan waktu     : 5
b. dapat diajak bicara tapi kacau                                             : 4
c. menegeluarkan kata-kata yang tidak berarti                       : 3
d. tidak menegluarkan kata hanya bunyi                                : 2
e. tidak keluar suara                                                                : 1

            Gejala  klinis juga ditentukan oleh derajat cedera dan lokasinya. Derajat cedera otak kurang lebih  sesuai dengan tingkat gangguan kesadaran penderita. Tingkat yang paling ringan ialah penderita gegar otak, dengan  gangguan kesadaran yang berlangsung hanya beberapa menit saja. Atas dasar ini trauma kepala dapat digolongkan menjadi ringan bila derajat koma  Glasgow (Glasgow Coma Scale, GCS) total adalah 14-15, sedang 9-13, dan berat bila 3-8. 3,4,6


BAB III
PEMBAHASAN

Pada penulisan referat ini diperoleh data dari bagian rekam medik Rumah Sakit Prof Dr Margono Soekarjo periode tahun 2000-2002 mengenahi tingkat mortalitas dan morbiditas pada pasien cidera kepala berdasarkan tingkat GCSnya adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Kasus cedera kepala berdasarkan jenis kelamin.
Laki-laki
Perempuan
82,4 % (832 kasus)
17,6 % (178 kasus)

Tabel 2. Kasus cedera kepala berdasarkan usia.
< 15 th
15 – 25 th
26 – 35 th
36 – 45 th
46 – 55 th
56 – 65 th
> 65 th
2,7 %
(27)
30,8 %
(311)
23,2 %
(234)
15,1 %
(153)
10 %
(101)
12,2 %
(123)
6 %
(61)

Tabel 3. Kasus cedera kepala di kelompokkan berdasarkan derajat cedera kepala
Cedera Kepala Ringan
Cedera Kepala Sedang
Cedera Kepala Berat
27,4 %
(277)
20,3 %
(205)
52,3 %
(528)
           

Tabel 4. Kasus cedera kepala di kelompokkan berdasarkan etiologinya
KLL
Jatuh
Pejalan kaki
Lain-lain
74,8 %
(756)
13,9 %
(141)
7 %
(71)
4,3 %
(42)

Tabel 5. Tingkat mortalitas pasien cedera kepala berdasarkan derajatnya
Derajat Cedera kepala
Mortalitas
Cedera Kepala Sedang dan Ringan
3 % (31)
Cedera Kepala Berat
4,8 %(48)

Dari penelitian diatas dengan jumlah kasus sebanyak 1010 orang selama periode tahun 2000 – 2002 diperoleh data bahwa pada pasien dengan cedera kepala berdasarkan jenis kelaminnya lebih banyak pada laki-laki 82,4 % sedangkan pada wanita  17,6 %,  begitu pula pada penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan oleh University of Alabama at Birmingham (UAB),  Injury Control Research Center (ICRC), UAB Hospital Neuro Intensive Care Unit (NICU), dan 17 National Traumatic Brain Injury Model System Centers, mendapatkan hasil dari 240 kasus yang kemudian diikuti perkembangannya selama satu tahun pertama saat penyembuhan, sekitar 78,8 % jenis kelamin laki-laki, dan 21,2 % jenis kelamin wanita.
Angka kejadian ceder kepala berdasarka jenis kelaminnya lebih banyak terjadi pada laki-laki 82,4 % hal ini mungkin disebabkan karena laki-laki mempunyai persentase terbanyak sebagai pengguna kendaraan bermotor.
            Kemudian berdasarkan usia saat terjadi cedera kepala didapat hasil usia kurang dari 15 tahun 2,7 %, usia 15-25 tahun 30,8 %, usia 26-35 tahun 23,2 %, usia 36-45 tahun 15,1 %, usia 45-55 tahun 10 %, usia 56-65 tahun 12,2 %, dan usia lebih dari 65 tahun 6 %. Begitu pula dengan penelitian oleh University of Alabama at Birmingham (UAB),  Injury Control Research Center (ICRC), UAB Hospital Neuro Intensive Care Unit (NICU), dan 17 National Traumatic Brain Injury Model System Centers usia 15 - 25 tahun 31,7 %, usia 26 -39 tahun 22,5 %, usia 36 – 45 tahun 19, 5 %, usia 46 – 55 tahun 10 %, usia 56 -65 tahun 7,5 %, usia lebih dari 65 tahun 8,8 %.
Angka kejadian yang paling tinggi terjadi pada usia usia 15-25 tahun 30,8 %, Hal ini mungkin disebabkan karena pada rentang usia ini mempunyai mobilitasnya cukup tinggi dan tingkat emosi yang masih labil, sehingga kemungkinan terjadi kecelakaan yang menimbulkan cedera kepala cukup tinggi.
            Penelitian berdasarkan derajat cedera kepala didapatkan hasil cedera kepala ringan 27,4 %, cedera kepala sedang 20,3 %, cedera kepala berat 52,3 % begitu pula pada penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan oleh University of Alabama at Birmingham (UAB),  Injury Control Research Center (ICRC), UAB Hospital Neuro Intensive Care Unit (NICU), dan 17 National Traumatic Brain Injury Model System Centers, cedera kepala ringan 21,2 %, cedera kepala sedang 20 %, cedera kepala berat 58,8 %.
Angka kejadian cedera kepala lebih banyak pada cedera kepala berat 47,7 % disebabkan karena keadaan pasien dengan kondisi yang lebih jelek mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi dating ke rumah sakit.
            Penelitian berdasarkan etiologi cedera kepala didapatkan hasil kecelakaan kendaraan bermotor 74,8 %, jatuh 13,9 %, pejalan kaki 7 %, lain-lain 4,3 %. begitu pula pada penelitian di Amerika Serikat yang dilakukan oleh University of Alabama at Birmingham (UAB),  Injury Control Research Center (ICRC), UAB Hospital Neuro Intensive Care Unit (NICU), dan 17 National Traumatic Brain Injury Model System Centers, kecelakaan kendaraan bermotor 64 %, tertembak 13 %,  jatuh 11 %, serangan 8 %, pejalan kaki 3 %, olah raga  1 %.
 Angka kejadian cedera kepala berdasarka etiologinya banyak terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor 74,8 %, karena penggunaannya semakin banyak, lalu lintas yang semakin padat, dan teknologi kendaraan yang memungkinkan berkecepatan tinggi.
            Penelitian berdasarkan tingkat mortalitas pada pasien cedera kepala didapat hasil cedera kepala ringan dan sedang 3 %, dan cedera kepala berat 4,8 %. Angka kejadian mortalitas lebih banyak terjadi pada pasien dengan cedera kepala berat 4,8 %.  hal ini mungkin disebabkan kerusakan otak.
            Pada penelitian ini tidak didapatkan angka morbiditas dari cedera kepala karena data yang ada tidak cukup untuk menunjang pengelompokan angka morbiditas serta  tidak adanya data follow up selanjutnya pada pasien cedera kepala.  


BAB IV
KESIMPULAN

1.      Angka kejadian ceder kepala berdasarka jenis kelaminnya lebih banyak terjadi pada laki-laki 82,4 % hal ini mungkin disebabkan karena laki-laki mempunyai persentase terbanyak sebagai pengguna kendaraan bermotor.
2.      Angka kejadian cedera kepala yang paling tinggi terjadi pada usia usia 15-25 tahun 30,8 %, Hal ini mungkin disebabkan karena pada rentang usia ini mempunyai mobilitasnya cukup tinggi dan tingkat emosi yang masih labil, sehingga kemungkinan terjadi kecelakaan yang menimbulkan cedera kepala cukup tinggi.
3.      Angka kejadian cedera kepala lebih banyak pada cedera kepala berat 52,3 % disebabkan karena keadaan pasien dengan kondisi yang lebih jelek mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi datang ke rumah sakit
4.      Angaka kejadian cedera kepala berdasarka etiologinya banyak terjadi pada kecelakaan kendaraan bermotor 74,8 %, karena penggunaannya semakin banyak, lalu lintas yang semakin padat, dan teknologi kendaraan yang memungkinkan berkecepatan tinggi.
5.      Angka kejadian mortalitas lebih banyak terjadi pada pasien dengan cedera kepala berat 4,8 %.  hal ini mungkin disebabkan pada pasien denga cedera kepala berat telah terjadi  kerusakan otak.
6.      Pada penelitian ini tidak didapatkan angka morbiditas dari cedera kepala karena data yang ada tidak cukup untuk menunjang pengelompokan angka morbiditas serta  tidak adanya data follow up selanjutnya pada pasien cedera kepala


0 comments:

Post a Comment