rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Gangguan Cemas Menyeluruh (General Anxiety Disorder)

A.    Diagnosis
Gambaran esensial dari gangguan cemas menyeluruh adalah adanya anxietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan lama), tetapi tidak terbatas pada atau hanya menonjol pada setiap keadaan lingkungan tertentu saja. Seperti pada gangguan-gangguan anxietas yang lain, gejala yang dominan sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala terasa ringan, palpitasi, sakit kepala dan keluhan epigastrik adalah keluhan-keluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan yang sering kali diungkapkan, bersamaan dengan berbagai kekhawatiran dan “firasat” lain. Selain itu biasanya pasien juga terdapat kewaspadaan kognitif yang ditandai dengan sifat mudah tersinggung dan mudahnya pasien dikejutkan. Gangguan ini lebih lazim terjadi pada wanita, dan sering kali berkaitan dengan adanya stres lingkungan yang kronis. (Depkes,1993 dan Kaplan & Saddock, 1997).

Sering kali pasien dengan gangguan kecemasan menyeluruh menghubungi dokter umum atau dokter spesialis penyakit dalam untuk membantu beberapa gejala somatik. Gangguan medis nonpsikiatrik spesifik jarang ditemukan, dan pasien adalah bervariasi dalam perilaku mencari dokter. Beberapa pasien menerima suatu diagnosis gangguan kecemasan menyeluruh dan pengobatan yang sesuai, yang lainnya mencari konsultasi medis tambahan untuk masalah mereka. (Kaplan & Saddock, 1997).
Diagnosis banding gangguan kecemasan menyeluruh adalah semua kondisi medis yang menyebabkan kecemasan. Klinisi harus menyingkirkan intoksikasi kafein, penyalahgunaan stimulan, putus alkohol, dan putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik. Pemeriksaan status mental dan riwayat penyakit harus menggali kemungkinan diagnosis gangguan panik, fobia, dan gangguan obsesif-kompulsif. Pada umumnya, pasien dengan gangguan panik mencari pengobatan lebih awal, lebih terganggu karena penyakitnya, memiliki onset gejala yang tiba-tiba, dan kurang terganggu oleh gejala somatik dibandingkan pasien dengan gangguan kecemasan menyeluruh (Kaplan & Saddock, 1997). Pada kasus ini berdasarkan data yang diperoleh dari pasien dan keluarga pasien, tidak terdapat kemungkinan bahwa pasien mengalami intoksikasi kafein, penyalahgunaan stimulan, putus alkohol, dan putus sedatif, hipnotik, atau ansiolitik. Dan pada pemeriksaan status mental dan riwayat penyakit, hal-hal yang dibutuhkan  untuk menegakkan diagnosis gangguan panik, fobia, dan gangguan obsesif-kompulsif tidak terpenuhi.

B.     Penatalaksanaan
Pengobatan yang paling efektif untuk pasien dengan kecemasan menyeluruh adalah pengobatan yang mengkombinasikan psikoterapi dan farmakoterapi. Pengobatan mungkin memerlukan cukup banyak waktu bagi klinisi yang terlibat (Kaplan & Saddock, 1997).
1.      Psikoterapi
Pendekatan psikoterapi untuk gangguan kecemasan menyeluruh meliputi (Kaplan & Saddock, 1997) :
a.       Terapi kognitif perilaku, terapi ini memiliki keunggulan jangka panjang dan jangka pendek. Pendekatan kognitif secara langsung menjawab distorsi kognitif pasien dan pendekatan perilaku menjawab keluhan somatik secara langsung. Teknik utama yang digunakan dalam pendekatan perilaku adalah relaksasi dan biofeedback.
b.      Terapi suportif, terapi yang menawarkan ketentraman dan kenyamanan bagi pasien, walaupun manfaat jangka panjangnya masih meragukan.
c.       Terapi berorientasi tilikan, memusatkan untuk mengungkapkan konflik bawah sadar dan mengenali kekuatan ego pasien.
2.      Farmakoterapi
Golongan benzodiazepin sebagai obat anti-anxietas mempunyai resiko terapetik lebih tinggi dan lebih kurang menimbulkan adiksi dengan toksisitas yang rendah, dibandingkan dengan mepobramate atau fenobarbital, disamping itu fenobarbital menginduksi enzim mikrosomal di hepar, sedangkan golongan benzodiazepin tidak. Benzodiazepin dimetabolisme di hati, dan bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas dari GABA (gamma-aminobutyric acid) yaitu suatu neurotransmiter penghambat utama di otak. Obat lain yang sering digunakan sebagai anti anxietas yaitu Buspiron. Buspiron memperbaiki anxietas tanpa menimbulkan sedasi. Buspiron tidak berinteraksi secara langsung dengan sistem GABAergik tetapi tampaknya menimbulkan efek ansiolitik dengan bekerja sebagai agonis sebagian pada reseptor 5-HT1A. Berbeda dengan benzodiazepin, efek ansiolitik buspiron tercapai setelah lebih dari 1 minggu, membuat obat ini tidak nyaman digunakan untuk keadaan ansietas menyeluruh. Golongan benzodiazepin merupakan drug of choice dari semua obat yang memiliki efek anti-anxietas, disebabkan spesifisitas, potensi dan keamanannya. Spektrum klinis benzodiazepin meliputi efek anti-anxietas, anti-konvulsan, anti-insomnia, dan premedikasi tindakan preoperatif  (Kaplan & Saddock, 1997 dan Katzung, 1998).
Obat-obat yang tergolong benzodiazepin meliputi :
-        Diazepam/clordiazepoxide : broadspectrum
-        Nitrazepam/Flurazepam : dosis anti –ansietas dan anti-insomnia berdekatan (non dose related), lebih selektif sebagai anti insomnia.
-        Midazolam : onset cepat dan kerja singkat sesuai kebutuhan untuk premedikasi tindakan operatif.
-        Clobazam : aktivitas psikomotor paling kurang terpengaruh, untuk pasien dewasa dan usia lanjut yang ingin tetap aktif.
-        Lorazepam : benzodiazepin dengan waktu paruh pendek dan tidak ada akumulasi obat yang signifikan pada dosis klinis, untuk pasien dengan kelainan fungsi hati dan ginjal.
-        Alprazolam : efektif untuk anxietas antisipatorik, aksi lebih cepat dan memiliki komponen antidepresi.
Kerugian benzodiazepin meliputi kecenderungan berkembangnya ketergantungan psikologi, pembentukan metabolit aktif, efek amnesia, dan biayanya yang relatif tinggi. Benzodiazepin menimbulkan depresi susunan saraf pusat yang bersifat aditif bila diberikan bersama obat lain, termasuk etanol. Hal ini terjadi pada semua obat golongan hipnotik-sedatif kecuali buspiron. Pasien harus diingatkan akan kemungkinan ini untuk menghindari gangguan penampilan tugas apa saja yang memerlukan kewaspadaan mental dan koordinasi motorik (Katzung, 1998).

C.    Prognosis
Karena tingginya insidensi gangguan mental komorbid pada pasien dengan gangguan kecemasan menyeluruh, perjalanan klinis dan prognosis gangguan adalah sukar untuk diperkirakan. Namun demikian, beberapa data menyatakan bahwa peristiwa kehidupan adalah berhubungan dengan onset gangguan kecemasan umum, terjadinya beberapa peristiwa kehidupan yang negatif secara jelas meningkatkan kemungkinan akan terjadinya gangguan.  Menurut definisinya, gangguan kecemasan menyeluruh adalah suatu keadaan kronis yang mungkin seumur hidup. Sebanyak 25 persen pasien akhirnya mengalami gangguan panik. Sejumlah besar pasien kemungkinan memiliki gangguan depresif berat (Kaplan & Saddock, 1997).  



0 comments:

Post a Comment