rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Pembunuhan Bayi (Refleksi Kasus)

A.    Pengalaman
Pada hari Sabtu, 23 Januari 2010 pukul 06.00 WIB, ditemukan bayi laki-laki dalam keadaan tidak bernafas dengan dibalut kain berwarna coklat bermotif batik dan sarung berwarna ungu bermotif kotak-kotak di atas bebatuan sungai tidak berair di bawah jembatan sungai sumber di daerah kali tirta, Berbah, Sleman, oleh warga sekitar jembatan tersebut. Lalu warga merasa panik dan meletakkan jenazah bayi tersebut ke dalam kardus aqua berwarna coklat kemudian segera meminta tolong kepada saudara R yang kebetulan melintas untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Berbah.


B.     Masalah yang diangkat / dikaji
1.      Bagaimana kasus ini ditinjau dari segi hukum apabila pembunuhan bayi ini sebelumnya direncanakan ataupun tidak oleh sang ibu ?
2.      Pasal apa saja yang biasanya digunakan bagi pelaku pada kasus-kasus seperti ini ?

C.    Analisis
Dalam segi hukum, ancaman hukuman pada kasus pembunuhan anak lebih ringan dibandingkan dengan kasus-kasus pembunuhan lainnya. Hal ini dikarenakan pelaku dari kejahatan ini merupakan ibu kandungnya si korban itu sendiri. Selain itu, kejahatan yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri itu dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari ibu, dimana selain rasa malu, takut, benci, serta rasa nyeri bercampur aduk menjadi satu, sehingga perbuatannya itu dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang, sadar, serta dengan perhitungan yang matang.
Di dalam KUHP, terdapat pasal-pasal yang berkaitan dengan pembunuhan anak, yaitu pasal 341, 342, dan 343. Hukuman yang dijatuhkan apabila sang ibu telah memiliki niat ataupun rencana untuk membunuh bayinya ketika lahir akan berbeda di mata hukum jika sang ibu tidak ada niat ataupun rencana sebelumnya.
Pasal 341 KUHP : “Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anaknya sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.”
Pasal 342 KUHP : “Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak, pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.”
Pasal 343 KUHP : “Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang turut serta melakukan, sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak dengan rencana.”
Pada kasus ini, bayi yang dilahirkan oleh sang ibu, diperkirakan telah cukup bulan dalam kandungan dan mampu hidup di luar kandungan. Namun, pada pemeriksaan tidak didapatkan adanya tanda-tanda perawatan. Sehingga, kasus ini dapat dikategorikan sebagai pembunuhan bayi dengan rencana, dimana dapat dikenakan pasal 342 KUHP dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

D.     Referensi
1.      Idries, A.M. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, ed. 1. Binarupa Aksara : Jakarta.

2.      Chadha, P.V. 1995. Catatan Kuliah Ilmu Kedokteran Forensik dan Toksikologi, ed. 5. Widya Medika : Jakarta.

0 comments:

Post a Comment