rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Suspek TB Paru pada Anak dengan Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Hidup yang Kurang Sehat serta Adanya Disfungsi Keluarga

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Puskesmas merupakan suatu unit organisasi yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan yang berada di garda terdepan dan mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan, yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat di suatu wilayah kerja tertentu yang telah ditentukan secara mandiri dalam menentukan kegiatan pelayanan namun tidak mencakup aspek pembiayaan.

Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang letaknya berada paling dekat ditengah-tengah masyarakat dan mudah dijangkau dibandingkan dengan unit pelayanan kesehatan lainya (Rumah Sakit Swasta maupun Negeri). Fungsi puskesmas adalah mengembangkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh seiring dengan misinya. Pelayanan kesehatan tersebut harus bersifat menyeluruh atau yang disebut dengan Comprehensive Health Care Service yang meliputi aspek promotive, preventif, curative, dan rehabilitatif. Prioritas yang harus dikembangkan oleh puskesmas harus diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan dasar (basic health care services) yang lebih mengedepankan upaya promosi dan pencegahan (public health service).
Puskesmas Tegalrejo adalah unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Tegalrejo, yang dimaksud unit pelaksanaan Teknis Dinas Kesehatan adalah yang melaksanakan tugas teknis operasional di wilayah kerja Puskesmas sebagai unit pelaksana tingkat pertama pembangunan kesehatan di indonesia.
Di kecamatan Tegalrejo terdapat tiga Puskesmas yaitu Puskesmas Tegalrejo (Puskesmas Induk), Puskesmas Bener (Puskesmas Pembantu I) dan Puskesmas Tompeyan (Puskesmas Pembantu II). Puskesmas Tegalrejo terletak di kota Yogyakarta dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah utara       : Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman
Sebelah Timur     : Kecamatan Tetis, Kota Yogyakarta
Sebelah Selatan   : Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta
Sebelah Barat      : Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul
Luas Wilayah Kecamatan Tegalrejo 2.904.741 ha dengan pembagian kelurahan menjadi empat kelurahan terdiri dari :
1.      Kelurahan Kricak                  : 59 RT, 13 RW
2.      Kelurahan Karangwaru         : 56 RT, 14 RW
3.      Kelurahan Tegalrejo              : 46 RT, 13 RW
4.      Kelurahan  Bener                  : 24 RT, 7 RW
Sasaran kesehatan wilayah kerja Puskesmas Tegalrejo (mengacu pada indikator Indonesia sehat 2010 dan SPM) diantaranya yaitu :
1.      Derajat kesehatan
2.      Keadaan lingkungan
3.      Perilaku hidup bersih dan sehat
4.      Pelayanan kesehatan
5.      Perbaikan Gizi Masyarakat
Untuk mencapai sasaran wilayah kerja Puskesmas Tegalrejo seperti tersebut diatas, dokter keluarga juga dapat berperan di dalamnya. Pelayanan Dokter Keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh dan memusatkan pelayanannya pada keluarga sebagai suatu unit, pada mana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja.
Praktek dokter keluarga ialah praktek kedokteran dalam pelayanan primer atau kontak pertama yang dijalankan secara paripurna atau komprehensif. Pelayanan yang diberikan harus meliputi pelayanan promosi kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Dalam melakukan pelayanannya, dokter keluarga berasaskan paripurna (comprehensive), terpadu (integrated), menyeluruh (holistic) dan berkesinambungan (sustainable).
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang sudah sangat lama dikenal oleh manusia. Walaupun telah dikenal sekian lama dan telah lama ditemukan obat-obat anti tuberkulosis yang poten, hingga saat ini TB masih merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Sepanjang dasawarsa terakhir abad ke-20 ini, jumlah kasus baru TB meningkat di seluruh dunia, 95% kasus terjadi di negara berkembang.
Di Indonesia, TB juga masih merupakan masalah yang menonjol. Bahkan secara global, Indonesia menduduki peringkat ke tiga sebagai penyumbang kasus terbanyak di dunia.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan laporan kasus ini yaitu TB paru pada anak yang dikarenakan lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat dan adanya disfungsi keluarga.

C.    Tujuan Penulisan
1.      Menganalisa kaitan psikososial dan perilaku kesehatan keluarga pada penderita suspek TB Paru.
2.   Menerapkan prinsip-prinsip pelayanan kedokteran secara komprehensif dan holistik dan peran aktif dari pasien dan keluarga.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

B.     Etiologi
Penyebab tuberculosis adalah Mycobacterium Tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Bakteri TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.

C.    Patogenesis
Sumber penularannya adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran napas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
Gambar 1. Patogenesis tuberkulosis

1.      Infeksi primer
Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran limfe akan membawa kuman TB ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif.
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai kuman persister atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, akan menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, diperkirakan sekitar 6 bulan.
2.      Tuberkulosis pasca primer (post primary TB)
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi pleura.

D.    Diagnosis
Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala utama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit, maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor .
Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system), yaitu pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pedoman tersebut secara resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak.
Lihat tabel 1. tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang.
Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pasien dengan jumlah skor yang lebih atau sama dengan 6 (>6), harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan ke arah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi, seperti bilasan lambung, patologi anatomi, pungsi lumbal, pungsi pleura, foto tulang dan sendi, funduskopi, CT-Scan, dan lain lainnya.
Tabel 1. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB

E.     Penatalaksanaan TB Anak
1.      Tujuan penatalaksanaan
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT.
2.      Pengobatan kategori anak
Gambar 2. Alur tatalaksana pasien TB anak pada unit pelayanan kesehatan dasar


Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Setelah pemberian obat 6 bulan, lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keberhasilan pengobatan. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti, OAT tetap dihentikan.
Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan dalam waktu 6 bulan. OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.
Tabel 2a. Dosis OAT Kombipak pada anak


Tabel 2b. Dosis OAT KDT pada anak

Keterangan:
·         Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit
·         Anak dengan BB 15-19 kg dapat diberikan 3 tablet.
·         Anak dengan BB ≥33 kg , dirujuk ke rumah sakit.
·         Obat harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelah
·         OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat sebelum diminum.

3.      Pengobatan pencegahan (profilaksis) untuk anak
Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita TB dengan BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem skoring. Bila hasil evaluasi dengan skoring sistem didapat skor < 5, kepada anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5-10 mg/kg BB/hari selama 6 bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG, imunisasi BCG dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai.




BAB III
LAPORAN KASUS

A.      IDENTITAS
Nama kepala keluarga   : Tn. KS
Umur                             : 31 tahun
Pekerjaan                       : Buruh harian lepas
Alamat                          : Bangunrejo TR I 1985 / Rt. 49 Rw. 11 Kricak, Tegalrejo, Yogyakarta
Agama                           : Islam
Suku                              : Jawa
Pendidikan                    : SLTP

Nama Pasien                 : An. Y
Umur                             : 2 tahun
TTL                               : Yogyakarta, 8 Januari 2008
Jenis kelamin                 : Laki-laki
Alamat                          : Bangunrejo TR I 1985 / Rt. 49 Rw. 11 Kricak, Tegalrejo, Yogyakarta
Agama                           : Islam
Suku                              : Jawa
No. RM                         : 01-1460
Tanggal kunjungan Puskesmas   : 20 Februari 2010
Tanggal kunjungan rumah I        : 20 Februari 2010
Tanggal kunjungan rumah II       : 21 Februari 2010


B.       ANAMNESIS (Alloanamnesis)
1.      Keluhan utama                     : batuk
2.      Keluhan tambahan              : pilek, demam, nafsu makan berkurang
3.      Riwayat penyakit sekarang :
15 Februari 2010 :
Pasien datang ke Puskesmas Tegalrejo bersama ibunya dengan keluhan batuk sejak 1 hari sebelum masuk puskesmas. Batuk dirasakan berdahak, namun dahak susah dikeluarkan. Dahak berwarna putih kekuningan, kental, dan tidak disertai darah. Tidak dirasakan sesak saat bernafas. Pasien sering muntah setelah batuk. Ibu pasien juga mengeluh anaknya pilek dan badan dirasakan panas naik turun. Dirasakan sering berkeringat di malam hari. Nafsu makan dirasakan berkurang, dan berat badan juga dirasakan berkurang.
20 Februari 2010 :
Pasien datang ke Puskesmas Tegalrejo bersama ibunya untuk kontrol. Batuk masih dirasakan namun agak berkurang. Demam sudah tidak lagi dirasakan. Namun nafsu makan masih berkurang. Berat badan dirasakan menurun. Pasien masih sering berkeringat di malam hari. Orangtua pasien mengaku pasien sering bermain bersama tetangganya di belakang rumah yang sedang dalam pengobatan TBC selama 2 bulan.

4.      Riwayat penyakit dahulu    :
Pasien pernah menderita keluhan yang serupa sebelumnya, kumat-kumatan sejak 1 tahun yang lalu. Pasien belum pernah dirawat di rumah sakit dan belum pernah menjalani operasi seumur hidupnya. Tidak ada riwayat alergi sebelumnya.
5.      Riwayat penyakit keluarga :
Orang tua pasien (bapak) menderita penyakit serupa 12 tahun yang lalu, didiagnosis TBC dengan riwayat pengobatan yang berhenti setelah 3 bulan.
a.       Riwayat penyakit darah tinggi : kakek dan nenek pasien adalah penderita hipertensi
b.      Riwayat penyakit jantung         : disangkal
c.       Riwayat penyakit gula              : disangkal
d.      Riwayat penyakit ginjal            : disangkal
e.       Riwayat penyakit asma             : disangkal
f.       Riwayat alergi                           : disangkal
6.      Riwayat imunisasi                :
A. Dasar

B. Ulangan :
Hepatitis
(+)
Pada umur 0, 1, 3 bulan

BCG
(+)
Pada umur 4 hari         
Skar : ± 2mm
Pada umur : -
DPT
(+)
Pada umur 2, 3, 4 bln
Pada umur : -
Polio
(+)
Pada umur 11 hari, 1, 4, 10 bln
Pada umur : -
Campak
(+)
Pada umur 10 bln






C.      PEMERIKSAAN FISIK (20 Februari 2010 pukul 16.00 WIB)
1.      Kesan umum : Baik, tidak rewel
2.      Kesadaran     : Kompos mentis
3.      Vital sign        :
Nadi             : 88 x/menit, teratur,  isi dan tegangan cukup
Suhu badan  : 36,5 0C
Pernafasan    : 28 x/menit, tipe torakoabdominal.
4.      Status gizi (Z score)
Berat badan  : 8,5 kg
Tinggi badan : 77  cm
Kesimpulan status gizi          : gizi kurang
5.      Status generalis
a.       Pemeriksaan kepala
1)      Bentuk kepala : Mesosefal
2)      Rambut           : Warna hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata
b.      Pemeriksaan mata
1)      Palpebra          : edema (-/-), ptosis (-/-)
2)      Konjungtiva    : anemis (-/-)
3)      Sklera              : ikterik (-/-)
4)      Pupil                : reflek cahaya (+/+), isokor
c.       Pemeriksaan telinga       : otore (-/-), nyeri tekan (-/-), serumen (-/-)
d.      Pemeriksaan hidung       : nafas cuping hidung (-/-), rinore (+/+)
e.       Pemeriksaan mulut dan faring   : bibir sianosis (-), lidah kotor (-), tepi hiperemis (-), tonsil tak membesar, bibir kering (-), mukosa kering (-)
f.       Pemeriksaan leher
1)      Kelenjar tiroid            : Tidak membesar
2)      Trakea                         : Struma (-)
3)      Kelenjar lnn                : Membesar, nyeri (-)
4)      Retraksi suprasternal : (-)
g.      Pemeriksaan dada           : Bentuk dada normal, simetris, deformitas (-), sikatriks (-),  ketinggalan gerak (-), atrofi muskulus pektoralis (-), penggunaan otot bantu nafas(-)
Kanan
Kiri
Depan
Belakang
Depan
Belakang
Inspeksi :
Inspeksi :
Inspeksi :
Inspeksi :
-
Simetris (+)
-
Simetris (+)
-
Simetris (+)
-
Simetris (+)
-
Ketinggalan gerak (-)


-
Ketinggalan gerak (-)


Palpasi
Palpasi
Palpasi
Palpasi
VF ka=ki
VF ka=ki
VF ki=ka
VF ki=ka
Perkusi
Sonor pada seluruh lapang paru
Perkusi
Sonor pada seluruh lapang paru
Perkusi
Sonor pada seluruh lapang paru
Perkusi
Sonor pada seluruh lapang paru
Auskultasi
Auskultasi
Auskultasi
Auskultasi
-
SD Vesikuler (+)
-
SD vesikuler (+)
-
SD vesikuler (+)
-
SD vesikuler (+)
-
Suara Tambahan :
-
Suara Tambahan :
-
Suara Tambahan :
-
Suara Tambahan :

Ronki (-)

Ronki (-)

Ronki (-)

Ronki (-)

Suara lendir (+)

Suara lendir (+)

Suara lendir (+)

Suara lendir (+)

h.      Pemeriksaan jantung



Inspeksi
:
Iktus kordis tidak tampak



Palpasi
:
Iktus kordis tidak teraba



Perkusi
:
Batas jantung





Kanan atas
: SIC II linea para sternalis kanan.





Kiri atas
: SIC II linea para sternalis kiri.





Kanan bawah
: SIC IV linea para sternalis kanan.





Kiri bawah
: SIC V linea midklavikula kiri.



Auskultasi
:
S1 > S2  reguler, Bising jantung (-)

i.        Pemeriksaan abdomen


Inspeksi
:
datar, defans muskular (-),  venektasi (-), sikatrik (-)


Auskultasi
:
peristaltik usus (+) normal


Palpasi
:
nyeri tekan abdomen (-), hepatomegali (-), massa (-), turgor elastisitas baik


Perkusi
:
Timpani

j.        Pemeriksaan ekstremitas
1)      Superior   : Deformitas (-), jari tabuh (-), ikterik (-), sianosis (-), oedem (-), R. Fisiologis (+) normal, R. Patologis (-)Tidak membesar
2)      Inferior     : Deformitas (-), jari tabuh (-), ikterik (-), sianosis (-), oedem (-), R. Fisiologis (+) normal, R. Patologis (-)

D.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
Usulan pemeriksaan penunjang pada pasien ini adalah pemeriksaan darah rutin, rontgen thorax dan mantoux test / uji tuberkulin.

E.       DIAGNOSIS BANDING
1.      Suspek TB paru
2.      ISPA
3.      Bronkitis akut

F.       DIAGNOSIS KERJA
Suspek TB paru
                                                               
G.      RENCANA PENATALAKSANAAN
1.      Terapi farmakologis
Amoxicillin syr 3 x I cth
Paracetamol syr 3 x I cth
              ( GG ½ tab + CTM ¼ tab ) 3x1 pulf
Isoniazid 100 mg tab 1 x ½ tab

2.      Terapi non farmakologis
a.    Mengingatkan orangtua untuk menjaga kebersihan rumah, lingkungan dan higiene pasien beserta orangtua yang merawatnya.
b.      Mengurangi kontak pasien dengan penderita TB aktif.
c.       Memperbaiki pencahayaan rumah sehingga pencahayaan di dalam rumah tercukupi.
d.      Memeriksakan diri pasien secepatnya apabila mengalami permasalahan kesehatan.
e.       Memberi edukasi pada orangtua untuk tetap memberikan anak makanan untk mencegah kurang gizi.
3.      Terapi Dietika
BB    : 8,5 kg
TB     : 77 cm
o   Kebutuhan kalori              : 100 x 8,5 = 850 kkal
o   Kebutuhan karbohidrat     : 60% x850 = 510 kkal
o   Kebutuhan protein             : 25% x850 = 212,5 kkal
o   Kebutuhan lemak              : 15% x850 = 127,5 kkal

Contoh menu makanan:
PAGI
SIANG
MALAM
-     Nasi  tim 1 gelas
-     Sayur bayam bening (bayam ½ gelas, wortel ½ gelas) à ditumbuk
-     Tahu goreng 1 potong besar
-     Selingan jam 10.00 WIB, berupa biskuit marie 4
-     ASI
-     Nasi tim 1 gelas
-     Sop Senerek (kacang merah 2 ½ sdm, kol, wortel ½ gelas, kentang 1 biji sedang) à ditumbuk
-     Tempe goreng 2 potong sedang
-     Selingan jam 16.00 WIB Jeruk manis 2 buah sedang
-      ASI
-     Nasi tim 1 gelas
- Sayur daun singkong 1 gelas
-   Telur ayam negeri dadar 1 butir
-     Pisang 1 buah sedang
-     ASI


BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Analisis Kasus
Diagnosis kerja pada pasien ini adalah suspek TB paru. Diagnosis ini diperoleh berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien mengalami batuk berdahak selama lima hari berturut-turut, disertai demam naik turun, nafsu makan berkurang, dan berat badan menurun. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya rinore pada kedua lubang hidung dan adanya pembesaran kelenjar limfe di leher. Terdapat faktor resiko berupa adanya kontak dengan penderita TB paru dalam pengobatan bulan ke-2.
Berdasarkan sistem skoring untuk tuberkulosis, pasien ini memiliki skor 4. Untuk menegakkan diagnosis pasti harus dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang, antara lain pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan rontgen thorax dan mantoux test. Penyakit yang diderita pasien dapat dipengaruhi oleh lingkungannya. Pasien tinggal serumah dengan kedua orang tuanya yang belum menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Sementara dari keadaan rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang kurang, adanya tempat sampah di dalam rumah yang tidak ditutup, hal ini dapat membuat lingkungan rumah pasien menjadi faktor resiko penyakit yang dideritanya.
­

B.     Analisis Kunjungan Rumah
1.      Kondisi Pasien
Saat kunjungan rumah yang pertama, pasien sudah membaik dan tidak rewel lagi. Pasien tidak demam, batuk dirasakan sudah berkurang, tidak muntah, namun nafsu makan dirasakan masih berkurang. Dari pemeriksaan fisik didapatkan nadi 88x/menit dan frekuensi pernafasan 28x/menit dengan suhu afebris (36,5 0C).
2.      Pendidikan
Saat ini pasien belum disekolahkan oleh orangtuanya.
3.      Keadaan Rumah
a.       Lokasi
Rumah terletak lingkungan padat penduduk, beralamat di Bangunrejo TR I 1985 / Rt. 49 Rw. 11, Kricak, Tegalrejo, Yogyakarta. Tidak berlokasi di tempat yang berbahaya.
Gambar 3. Denah alamat pasien
b.      Kondisi rumah
Dibangun kokoh dan tidak bertingkat. Lantai rumah terbuat dari semen, dinding rumah terbuat dari tembok dan atap rumah terbuat dari genteng dengan luas bangunan 45 m2. Rumah adalah milik kakek pasien. Kebersihan di dalam rumah terkesan kurang bersih dan penempatan barang-barang yang kurang rapi. Kepemilikan barang di rumah adalah, 1 meja dan 3 kursi tamu sederhana, 1 rak televisi, 3 kasur, 1 lemari, dan peralatan dapur. Alat elektronik yang ada di rumah adalah sebuah kipas angin listrik, sebuah televisi berwarna ukuran 21 inchi, sebuah setrika, dan sebuah radio.
c.       Pembagian ruangan
Rumah dihuni oleh 7 orang, sehingga rata-rata 6,5 m2 untuk setiap penghuni rumah. Rumah terdiri dari beberapa ruangan, yaitu 3 kamar tidur, 1 ruang tamu dan  1 ruang keluarga, 1 kamar mandi, serta 1 dapur. Tiap-tiap ruangan dipisahkan oleh sekat yang terbuat dari papan triplek.
Gambar 4. Denah rumah pasien

d.      Ventilasi
Ruang
Ukuran
Ukuran Ruangan
Perbandingan
Ket.
Jendela
Ventilasi
Ruang tamu
1,5x1 m

3x3 m
<25%

Ruang Keluarga
1,5x1 m
-
3x3 m
<25%

Kamar I
-
-
3x2 m
<25%

Kamar II
-
-
3x2 m
<25%

Kamar III
-
-
3x2 m
<25%

Kamar mandi
-
0,5x2 m
2x2 m
<25%

Dapur
-
-
3x3 m
<25%

Dapat disimpulkan bahwa rumah An. Y kurang baik dalam hal ventilasi dan perbandingan jendela dengan luas ruangan.
e.       Pencahayaan
Pencahayaan terkesan cukup pada ruang tamu dan ruang keluarga, namun terkesan kurang pada semua kamar tidur. Kegiatan membaca dapat dengan mudah dilakukan di ruang tamu dan ruang keluarga di siang hari tanpa lampu, karena jendela selalu terbuka dan terdapat genteng kaca yang memudahkan cahaya masuk dari atas tanpa adanya plafon. Sulit dilakukan kegiatan membaca di kamar tidur yang tidak berjendela pada siang hari tanpa lampu, karena seluruh ruangan tertutup sekat dan tembok. Daya listrik yang dipakai pada rumah adalah 450 watt, cukup untuk keperluan sehari-hari.

4.      Sanitasi Dasar
a.       Sumber air bersih
Sumber air yang digunakan untuk minum, mandi dan mencuci berasal dari sumur. Sumur terletak di belakang rumah tetangga sebelah dan sumur tidak ditutup, namun memiliki atap yang melindungi sumur.
Kondisi sumur :
No.
Pertanyaan
Jawaban
1.
Apakah ada jamban dalam jarak 10 m sekitar sumur yang dapat menjadi sumber pencemaran?
Ya
2.
Apakah ada sumber pencemaran lain dalam jarak 10 m dari sumur?
Ya
3.
Apakah ada/sewaktu-waktu ada genangan air dalam jarak 2 m sekitar sumur?
Ya
4.
Apakah saluran pembuangan rusak/tidak ada?
Ya
5.
Apakah lantai semen yang mengitari sumur mempunyai radius kurang dari 1 m?
Ya
6.
Apakah ada/sewaktu-waktu ada air di atas lantai semen sekeliling sumur?
Ya
7.
Apakah ada keretakan pada lantai sekitar sumur yang memungkinkan air merembes ke dalam sumur?
Tidak
8.
Apakah ember dan tali timba seaktu-waktu diletakkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan pencemaran?
Tidak
9.
Apakah bibir sumur (cincin) tidak sempurna sehingga memungkinkan air merembes ke dalam sumur?
Tidak
10.
Apakah dinding semen sepanjang kedalaman 3 m dari atas permukaan tanah tidak diplester cukup rapat/sempurna?
Tidak

b.      Jamban keluarga
Pasien memiliki jamban yang digunakan bersama-sama keluarga lain. Kondisi jamban sukar dibersihkan, mudah diglontor, lokasinya berada di belakang rumah terpisah dengan rumah pasien, dan memiliki septic tank.
c.       Saluran pembuangan air limbah (SPAL)
Pasien memiliki bak kontrol. Air bekas pencucian alat dapur dan pakaian disalurkan melalui saluran menuju septic tank yang terletak dibelakang rumah. Saluran pembuangan lancar.
d.      Tempat sampah
Tempat sampah terletak di dalam dapur, terbuat dari plastik, tidak tertutup, berbentuk persegi berukuran ± 0,5x0,5 m dan tinggi 50 cm, dan sampah diambil petugas kebersihan setiap hari.
e.       Halaman
Rumah pasien tidak terdapat halaman rumah.

C.    Analisis Keluarga
1.      Genogram Keluarga (dibuat tanggal 20 Februari 2010)
Anggota keluarga yang berada di satu rumah yaitu:
No.
Nama
Kedudukan dlm keluarga
L/P
Umur
Pendidikan
Pekerjaan
Pasien KDK
Ket
1.
Tn. JS
Kakek
L
50
SD
Buruh


2.
Ny. K
Nenek
P
49
SLTP
-


3.
Tn. D
Paman
L
28
SLTP
Buruh


4.
Tn. KS
Ayah
L
31
SLTP
Buruh


5.
Ny. H
Ibu
P
24
SLTP
IRT


6.
An. CS
Kakak
L
4
-
-


7.
An. Y

L
2
-
-


2.      Nilai APGAR Keluarga
Nilai APGAR adalah salah satu cara untuk mengidentifikasi sehat atau tidaknya fungsi suatu keluarga. APGAR itu sendiri terbagi dalam:
a.       Adaptasi (adaptation)
Dinilai dari tingkat kepuasan anggota keluarga dalam menerima bantuan yang diperlukan.
b.      Kemitraan (partnership)
Dinilai dari tingkat kepuasan anggota keluarga berkomunikasi, bermusyawarah dalam mengambil keputusan dan atau menyelesaikan suatu masalah.
c.       Pertumbuhan (growth)
Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebebasan yang diberikan keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan kedewasaan dari setiap anggota keluarga.
d.      Kasih sayang (affection)
Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih sayang serta interaksi emosional yang berlangsung dalam keluarga.
e.       Kebersamaan (resolve)
Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kebersamaan membagi waktu, kekayaan dan ruang antar anggota keluarga.
Kuisioner APGAR keluarga
Penilaian
Hampir tidak pernah (0)
Kadang (1)
Hampir selalu (2)
Saya puas dengan keluarga saya karena masing-masing anggota keluarga sudah menjalankan kewajiban sesuai dengan seharusnya.


Saya puas dengan keluarga saya karena dapat membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang saya hadapi.


Saya puas dengan kebebasan yang diberikan keluarga saya untuk mengembangkan kemampuan yang saya miliki.


Saya puas dengan kehangatan / kasih saying yang diberikan keluarga saya.


Saya puas dengan waktu yang disediakan  keluarga untuk menjalin kebersamaan


TOTAL
5
Total skor       8-10: fungsi keluarga sehat (high functional family)
                         4-7 : fungsi keluarga kurang sehat (moderate dissfunctional family)
                         0-3 : fungsi keluarga sakit (severe dissfunctional family)
Dapat disimpulkan bahwa fungsi keluarga ini adalah fungsi keluarga kurang sehat.
3.      Analisis SCREEM
Aspek
Sumber Daya
Patologi
Sosial

Interaksi antar anggota keluarga tidak terjalin baik dan juga interaksi anggota keluarga dengan tetangga tidak terjalin dengan baik.
Kultural
Keluarga pasien serta masyarakat sekitar memiliki budaya saling mengenali tetangga dan memiliki kultur tolong-menolong yang tinggi. Kegiatan gotong royong dan ronda masih sering dilakukan oleh masyarakat.

Religi
Anggota keluarga menjalankan ibadahnya dengan baik.

Ekonomi

Penghasilan keluarga tidak mencukupi kebutuhan di bidang ekonomi.
Pendidikan

Pendidikan anggota keluarga kurang baik. Kedua orangtua pasien hanya lulusan SLTP.
Kesehatan
Kepemilikan KMS dan kartu Jamkesmas memudahkan keluarga untuk mendapatkan pelayanan pengobatan.


Dapat dilihat dari tabel SCREEM bahwa dalam aspek sosial, ekonomi, dan pendidikan keluarga An. Y tergolong kurang baik. Hal ini menunjukkan diperlukan edukasi untuk dapat menambah pengetahuan sehingga kualitas keluarga ini menjadi lebih baik.

4.      Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga
a.    Fungsi biologis
Keluarga pasien yang memiliki riwayat penyakit hipertensi.
b.    Fungsi afektif
Hubungan anggota keluarga yang hidup satu atap tidak terjalin dengan baik.
c.    Fungsi sosial
Keluarga pasien tidak terlalu sering menyapa tetangga dan jarang bekerjasama dengan mereka.
d.   Fungsi ekonomi
Pasien di rumah sebagai anak, dengan pendapatan keluarga sebesar ± Rp. 500.000,- dirasakan tidak dapat mencukupi kebutuhan hidup. Kebutuhan gizi selalu diusahakan untuk terpenuhi dengan menu makanan yang seimbang setiap harinya. Untuk kepentingan pengobatan pasien tercukupi karena mengikuti Jamkesmas.
e.    Fungsi religius
Semua anggota keluarga menjalankan ibadahnya dengan baik.
f.     Fungsi pendidikan
Pasien belum disekolahkan. Sementara dari pendidikan keluarga kurang, sehingga kurang mengerti atau menyadari tentang pentingnya hidup bersih dan sehat.

5.      Identifikasi Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
a.       Pencegahan penyakit
Kesadaran pasien dan keluarga pasien akan pencegahan penyakit masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari paman pasien yang masih merokok di dalam rumah serta ventilasi dan pencahayaan yang kurang, selain itu keluarga pasien tidak terbiasa mencuci tempat makan dan minum pasien dengan air hangat, dan juga keluarga pasien kurang rajin membersihkan rumah.
b.      Gizi keluarga
Pemenuhan gizi keluarga kurang tercukupi karena tingkat pendidikan dan ekonomi yang kurang baik.
c.       Higiene dan sanitasi lingkungan
Karena rumah pasien tidak memiliki sumur resapan dan jerambah sumur pasien tidak kedap air serta tempat sampah di dalam rumah yang tidak ditutup, maka sanitasi dasar pada keluarga ini belum memenuhi syarat. Selain itu, di sekitar rumah pasien ditemukan genangan air yang dapat menjadi tempat berkembangnya nyamuk.
d.      Penggunaan pelayanan kesehatan
Pasien dan keluarganya selalu memeriksakan diri di pelayanan kesehatan jika terjadi gangguan kesehatan.


6.      Identifikasi Lingkungan Hidup Keluarga
Rumah pasien terletak di lingkungan padat penduduk yang belum mengutamakan higiene ditunjukkan oleh kurangnya kebiasaan masyarakat menjaga kebersihan badan dan lingkungan. Selain itu sanitasi dan ventilasi kurang, karena tidak memiliki sumur resapan dan sumber air yang ada tidak memenuhi syarat serta jumlah ventilasi yang belum memenuhi syarat.
7.      Identifikasi Masalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
No.
Kriteria yang dinilai
Jawaban
Skor
1.
Tidak merokok
Tidak
0
2.
Persalinan dibantu tenaga medis
Ya
1
3.
Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan
Ya
1
4.
Imunisasi
Ya
1
5.
Balita ditimbang secara teratur
Ya
1
6.
Kebiasaan sarapan pagi
Ya
1
7.
Makan buah dan sayur
Ya
1
8.
JPKM
Ya
1
9.
Cuci tangan
Ya
1
10.
Gosok gigi
Ya
1
11.
Olahraga
Ya
1
12.
Jamban
Ya
1
13.
Air bersih bebas jentik
Ya
1
14.
Sampah dikelola dgn baik
Ya
1
15.
SPAL
Ya
1
16.
Ventilasi
Ya
1
17.
Kepadatan
Tidak
0
18.
Lantai
Tidak
0
Total
15
Klasifikasi:
Sehat I : dari 18 pertanyaan, jawaban ”Ya” antara 1-5 pertanyaan.
Sehat II : dari 18 pertanyaan, jawaban ”Ya” antara 6-10 pertanyaan.
Sehat III : dari 18 pertanyaan, jawaban ”Ya” antara 11-15 pertanyaan.
Sehat IV : dari 18 pertanyaan, jawaban ”Ya” antara 16-18 pertanyaan.
PHBS pada pasien ini masuk dalam klasifikasi sehat III atau kriteria sehat hijau.
8.      Identifikasi Skor Rumah Sehat
No.
Variabel
Skor
1.
Lokasi
Tidak rawan banjir
Rawan banjir
3
1
2.
Kepadatan hunian
Tidak padat (>8m2/orang)
Padat           (<8m2/orang)
3
1
3.
Lantai
Semen, ubin, keramik, kayu
Tanah
3
1
4.
Pencahayaan
Cukup
Tidak cukup
3
1
5.
Ventilasi
Ada ventilasi
Tidak ada
3
1
6.
Air bersih
Air dalam kmasan
Ledeng/PAM
Mata air terlindung
Sumur pompa tangan
Sumur terlindung
Sumur tidak terlindung
Mata air tidak terlindung
Lain-lain
3
3
2
2
2
1
1
1
7.
Pembuangan kotoran (kakus)
Leher angsa
Plengsengan
Cemplung/cubluk
Kolam akan/sungai/kebun
Tidak ada
3
2
2
1
1
8.
Septic tank
Septic tak dengan jarak >10m dari sumber air minum
Lainnya
3
1
9.
Kepemilikan WC
Sendiri
Bersama
Tidak ada
3
2
1
10.
SPAL
Saluran tertutup
Saluran terbuka
Tidak ada
3
2
1
11.
Saluran got
Mengalir lancar
Mengalir lambat
Tergenang
Tidak ada got
3
2
1
1
12.
Pengelolaan sampah
Diangkut petugas
Dibuat kompos
Ditimbun
Dibakar
Dibuang sembarangan
Dibuang ke kali
Lainnya
3
2
3
2
1
1
1
13.
Polusi udara
Tidak ada gangguan polusi
Ada gangguan
3
1
14.
Bahan bakar masak
Listrik, gas
Minyak tanah
Kayu bakar
Arang/batu
3
2
1
1
Jumlah
32
Klasifikasi
-          Baik           : 35-42 (>83%)
-          Sedang      : 29-34 (69-83%)
-          Kurang      : <29       (<69%)
Skor rumah sehat pada pasien ini masuk dalam klasifikasi sedang.

D.    Pelaksanaan Program Pembinaan
Tanggal
Kegiatan yang dilakukan
Hasil kegiatan
20 Februari 2010
Anamnesis perjalanan penyakit dan pemeriksaan fisik, kelengkapan data KMS, menilai kondisi rumah, identifikasi masalah
Mengetahui proses perjalanan penyakit, mengetahui kondisi lingkungan rumah dan mengidentifikasi masalah pasien (kurangnya pendidikan dan kesadaran hidup bersih dan sehat)
21 Februari 2010
Followup perkembangan penyakit pasien, edukasi tentang pentingnya hidup bersih dan sehat serta penyakit pasien
Pasien sudah membaik, keluarga pasien mengerti penyakit pasien dan pentingnya hidup bersih dan sehat

E.     Prioritas Masalah keluarga
No.
Masalah yang terjadi pada keluarga
Rencana Pembinaan
Sasaran pembinaan
1.
Paman pasien merupakan perokok aktif
Memberi pengertian kepada paman pasien mengenai efek buruk rokok terhadap tubuh sendiri dan lingkungan sekitarnya
Keluarga pasien
2.
Rumah kurang ventilasi dan pencahayaan
Memberi tahu bahwa kondisi rumah kurang baik dan memberi saran mengenai bagaimana rumah yang seharusnya
Keluarga pasien
3.
Adanya kontak dengan penderita TB
Memberi tahu akan resiko penularan yang dapat terjadi jika mengadakan kontak dengan penderita TB terutama bagi anak-anak
Pasien
Keluarga pasien
F.     Diagnosis Kedokteran keluarga
1.      Diagnosa Biologis
Suspek TB paru
2.      Bentuk keluarga
Keluarga terdiri dari seorang suami, seorang istri, dua orang anak, kakek, nenek, dan paman sehingga dapat dikatakan bentuk keluarga tersebut adalah keluarga perluasan.
3.      Tahapan siklus kehidupan keluarga
Menurut Duvall, keluarga ini termasuk ke dalam tahapan keluarga dengan bayi (birth of first child). Sedangkan menurut klasifikasi yang berbeda yaitu menurut Howell, keluarga ini termasuk ke dalam fase ekspansi karena lahirnya anak anak.
4.      Gangguan pada fungsi keluarga
Fungsi keluarga tidak berjalan dengan baik. Fungsi keluarga ini termasuk ke dalam fungsi keluarga kurang sehat (moderate dissfunctional family).
5.      Gangguan pada pola sikap dan perilaku kesehatan
Terdapat satu anggota keluarga yang perokok, sehingga dapat mengganggu kesehatan di lingkungan rumah dan tidak terbiasanya mencuci tempat makan dan minum pasien dengan air hangat pada setiap anggota keluarga. 
6.      Gangguan pada Pola Hidup Bersih dan Sehat
Menurut skoring PHBS keluarga ini termasuk ke dalam keluarga klasifikasi sehat III. Hanya saja ventilasi dan pencahayaan di dalam rumah belum memenuhi syarat sehingga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
7.      Diagnosa kedokteran keluarga
Suspek TB paru pada anak dengan sanitasi lingkungan dan perilaku hidup yang kurang sehat serta adanya disfungsi keluarga.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    KESIMPULAN
Dari hasil kunjungan rumah pada pasien penderita suspek TB paru yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Tegalrejo Kota Yogyakarta, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Faktor resiko yang ditemukan pada pasien adalah faktor kependudukan, faktor lingkungan, faktor perilaku, dan faktor fungsi keluarga.
2.      Terapi yang diberikan kurang efektif karena belum mencakup keseluruhan faktor resiko pada penyakit pasien.
3.      Fungsi-fungsi keluarga termasuk dalam keluarga kurang sehat (nilai APGAR = 5).
4.      Kurangnya edukasi pada keluarga tentang penyakit pada pasien.

B.     SARAN
1.      Edukasi dan motivasi pasien sangat penting untuk mencegah progresivitas penyakitnya.
2.      Memotivasi pasien agar dapat menerapkan pola hidup sehat.
3.      Pengoptimalan terapi baik dengan terapi non-farmakologis maupun terapi farmakologis dalam mengatasi penyakit pasien.
DAFTAR PUSTAKA

1.      Ilham, 2008. Definisi Puskesmas. Diakses dari http://www.kebijakankesehatan.co.cc
2.      Notoatmojo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat, cetakan ke-2. Rineka Cipta : Jakarta.
3.      Wiyono, A., et. al. 2007. Panduan kepaniteraan program pendidikan Profesi Kedokteran Keluarga. Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta : Yogyakarta.
4.      Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, ed. 2. Depkes RI : Jakarta.
5.      Rahajoe, N. 1987. Beberapa Masalah Penanggulangan Tuberkulosis Anak Dalam Praktek Sehari-hari. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.

6.      Widodo, E. 2003. Tuberkulosis Pada Anak : Diagnosis dan Tata Laksana Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan. IDAI Jaya : Jakarta.

0 comments:

Post a Comment