rss
twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Tanatologi dan Identifikasi Kematian Mendadak (Khususnya pda kasus Penggantungan)

PENGERTIAN TANATOLOGI

            Tanatologi merupakan ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kematian yaitu: definisi atau batasan mati, perubahan yang terjadi pada tubuh setelah terjadi kematian dan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.
            Mati menurut ilmu kedokteran didefinisikan sebagai berhentinya fungsi sirkulai dan respirasi secara permanen (mati klinis). Dengan adanya perkembangan teknologi ada alat yang bisa menggantikan fungsi sirkulasi dan respirasi secara buatan. Oleh karena itu definisi kematian berkembang menjadi kematian batang otak. Brain death is death. Mati adalah kematian batang otak.


WAKTU KEMATIAN
             
Faktor-faktor yang digunakan untuk menentukan saat terjadinya kematian adalah:
1.     Livor mortis (lebam jenazah)
2.     Rigor mortis (kaku jenazah)
3.     Body temperature (suhu badan)
4.     Degree of decomposition (derajat pembusukan)
5.     Stomach Content (isi lambung)
6.     Insect activity (aktivitas serangga)
7.     Scene markers (tanda-tanda yang ditemukan pada sekitar tempat kejadian)

Livor mortis
            Livor mortis atau lebam mayat terjadi akibat pengendapan eritrosit sesudah kematian akibat berentinya sirkulasi dan adanya gravitasi bumi . Eritrosit akan menempati bagian terbawah badan dan terjadi pada bagian yang bebas dari tekanan. Muncul pada menit ke-30 sampai dengan 2 jam. Intensitas lebam jenazah meningkat dan menetap 8-12 jam.
            Lebam jenazah normal berwarna merah keunguan. Tetapi pada keracunan sianaida (CN) dan karbon monoksida (CO) akan berwarna merah cerah (cherry red).

Rigor Mortis
            Rigor mortis atau kaku jenazah terjadi akibat hilangnya ATP. ATP digunakan untuk memisahkan ikatan aktin dan myosin sehingga terjadi relaksasi otot. Namun karena pada saat kematian terjadi penurunan cadangan ATP maka ikatan antara aktin dan myosin akan menetap (menggumpal) dan terjadilah kekakuan jenazah. Rigor mortis akan mulai muncul 2 jam postmortem semakin bertambah hingga mencapai maksimal pada 12 jam postmortem. Kemudian setelah itu akan berangsur-angsur menghilang sesuai dengan kemunculannya. Pada 12 jam setelah kekakuan maksimal (24 jam postmortem) kaku jenazah sudah tidak ada lagi. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kaku jenazah adalah suhu tubuh, volume otot dan suhu lingkungan. Makin tinggi suhu tubuh makin cepat terjadi kaku jenazah. Rigor mortis diperiksa dengan cara menggerakkan sendi fleksi dan antefleksi pada seluruh persendian tubuh.
Hal-hal yang perlu dibedakan dengan rigor mortis atau kaku jenazah adalah:
1.     Cadaveric Spasmus, yaitu kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap sesudah kematian akibat hilangnya ATP lokal saat mati karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum mati.
2.     Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein karena panas sehingga serabut otot memendek  dan terjadi flexi sendi. Misalnya pada mayat yang tersimpan dalam ruangan dengan pemanas ruangan dalam waktu yang lama.
3.     Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan yang dingin sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh dan pemadatan jaringan lemak subkutan sampai otot.

Body Temperature
            Pada saat sesudah mati, terjadi karena adanya proses pemindahan panas dari badan ke benda-benda di sekitar yang lebih dingin secara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi. Penurunan suhu badan dipengaruhi oleh suhu lingkungan, konstitusi tubuh dan pakaian. Bila suhu lingkugan rendah, badannya kurus dan pakaiannya tipis maka suhu badan akan menurun lebih cepat. Lama kelamaan suhu tubuh akan sama dengan suhu lingkungan.
            Perkiraan saat kematian dapat dihitung dari pengukuran suhu jenazah perrektal (Rectal Temperature/RT). Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus PMI (Post Mortem Interval) berikut.

Formula untuk suhu dalam o Celcius
            PMI = 37 o C-RT o C +3

Formula untuk suhu dalam o Fahrenheit
            PMI = 98,6 o F-RT o F
                                1,5

Decomposition
            Pembusukan jenazah terjadi akibat proses degradasi jaringan karena autolisis dan kerja bakteri. Mulai muncul 24 jam postmortem, berupa warna kehijauan dimulai dari daerah sekum menyebar ke seluruh dinding perut dan berbau busuk karena terbentuk gas seperti HCN, H2S dan lainlain. Gas yang terjadi menyebabkan pembengkakan. Akibat proses pembusukan rambut mudah dicabut, wajah membengkak, bola mata melotot, kelopak mata membengkak dan lidah terjulur. Pembusukan lebih mudah terjadi pada udara terbuka suhu lingkungan yang hangat/panas dan kelembaban tinggi. Bila penyebab kematiannya adalah penyakit infeksi maka pembusukan berlangsung lebih cepat.

Proses-Proses Spesifik pada Jenazah Karena Kondisi Khusus

Mummifikasi
            Mummifikasi terjadi pada suhu panas dan kering sehingga tubuh akan terdehidrasi dengan cepat. Mummifikasi terjadi pada 12-14 minggu. Jaringan akan berubah menjadi keras, kering, warna coklat gelap, berkeriput dan tidak membusuk.

Adipocere
            Adipocere adalah proses terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak dan berminyak yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh postmortem. Lemak akan terhidrolisis menjadi asam lemak bebas karena kerja lipase endogen dan enzim bakteri.
            Faktor yang mempermudah terbentuknya adipocere adalah kelembaban dan suhu panas. Pembentukan adipocere membutuhkan waktu beberapa minggu sampai beberap bulan. Adipocere relatif resisten terhadap pembusukan.

Gastric Emptying
            Pengosongan lambung dapat dijadikan salah satu petunjuk mengenai saat kematian. Karena makanan tertentu akan membutuhkan waktu spesifik untuk dicerna dan dikosongkan dari lambung. Misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam sedangkan makan besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna.


Aktivitas Serangga
            Aktivitas serangga juga dapat digunakan untuk memperkirakan saat kematian yaitu dengan menentukan umur serangga yang biasa ditemukan pada jenazah. Necrophagus species akan memakan jaringan tubuh jenazah. Sedangkan predator dan parasit akan memakan serangga Necrophagus. Omnivorus species akan memakan keduanya baik jaringan tubuh maupun serangga. Telur lalat biasanya akan mulai ditemukan pada jenazah sesudah 1-2 hari postmortem. Larva ditemukan pada 6-10 hari postmortem. Sedangkan larva dewasa yang akan berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari.
           
           
PENGERTIAN IDENTIFIKASI KEMATIAN MENDADAK

Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati, berdasarkan beberapa ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Kematian mendadak pada seseorang bisa terjadi karena hal-hal yang tidak alamiah, seperti keracunan, kekerasan, atau merupakan hasil akhir dari keadaan alamiah. Angka kejadian kematian mendadak sekitar 10 % dari seluruh kematian.

Dalam dunia kedokteran, para ahli kedokteran forensik dan patolog yang terlibat dalam otopsi forensik, mengatakan “kematian mendadak” tidak berarti mati tiba-tiba, berbeda dengan sindroma kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome= SIDS). Beberapa orang menyatakan waktu kematian pada kematian mendadak kurang dari 24 jam. Tapi dalam implikasinya kematian mendadak adalah kematian yang cepat, tidak terduga dan kebanyakan tanpa saksi maupun penyebab yang jelas saat jenazah ditemukan

PENYEBAB KEMATIAN MENDADAK
A.    Penyakit-penyakit sistem kardiovaskuler (45 – 50%)
1.     Miokarditis akut, misalnya akibat difteri, enteritis atau infeksi non-spesifik
2.     Infark miokard
3.     Gagal jantung kiri, akibat penyakit pada katup jantung atau hipertensi
4.     Ruptur aneurisma atau robeknya pembuluh darah besar yang letaknya berdekatan dengan jantung
5.     Trombosis mural atau emboli
6.     Emboli paru
7.     Penyakit jantung kongenital pada bayi baru lahir
B.    Penyakit pada sistem pernafasan (15-23%)
1.     Pneumonia lobaris
2.     Bronko-pneumonia
3.     Benda asing yang menyumbat saluran pernafasan
4.     Edema paru
5.     Edema akut pada glotis
6.     Karsinoma paru
7.     Laringitis difteri
8.     Emboli udara
9.     Tuberkulosis paru
10.  Pneumonia aspirasi
11.  Kolaps jaringan paru yang luas
C.    Penyakit pada sistem pencernaan (6-8%)
1.     Perdarahan dari tukak peptik, kanker lambung, varises esofagus
2.     Perforasi tukak pada sistem pencernaan, misalnya tukak peptik, tukak enterik, tukak karsinomatosa, tukak tuberkulosa
3.     Obstruksi usus halus
4.     Pankreatitis akut, kolesistitis akut
5.     Ruptur hernia, biasanya akibat strangulasi
6.     Abses hati yang pecah
7.     Ruptur limpa
D.    Penyakit pada sistem saraf pusat (10-18%)
1.     Perdarahan serebral
2.     Emboli serebral
3.     Aterosklerosis atau trombosis serebral
4.     Perdarahan subarachnoid
5.     Meningitis
6.     Abses otak
7.     Ensefalitis akut
8.     Tumor otak
9.     Epilepsi
E.    Penyakit pada sistem genitourinaria (3-5%)
1.     Gagal ginjal akut akibat pembentukan batu, infeksi, tumor
2.     Ruptur pada bagian saluran kemih yang mengalami obstruksi akibat batu, tumor, striktura uretra
3.     Keracunan kehamilan (eklampsia)
4.     Ruptur kehamilan ektopik
5.     Perdarahan uterus yang hebat disebabkan oleh berbagai macam hal
F.    Syok akibat ketakutan atau rangsangan berlebihan
G.    Lain-lain (5-10%)
1.     Diabetes mellitus
2.     Diskrasia darah dan ketidakcocokan transfusi darah
3.     Reaksi idiosinkrasi tubuh terhadap obat, misalnya syok anafilaktik pada penggunaan penisilin
4.     Malaria serebral-filaria serebral
5.     Penyakit Addison

 

KEMATIAN AKIBAT ASFIKSIA

Tindakan kekerasan yang menyebabkan kematian akibat asfiksia dibagi menjadi:
1.     Hanging (penggantungan)
2.     Strangulasi (pencekikan), definisi: kematian dengan tindakan kekerasan akibat penekanan pada bagian leher dari arah luar dengan alat tertentu atau dengan tangan. Besarnya gaya tekanan pada leher ini bukan berasal dari berat badan tubuh korban.
3.     Sufokasi: merupakan bentuk asfiksia akibat obstruksi pada saluran udara menuju paru-paru yang bukan karena penekanan pada leher atau tenggelam.
4.     Tenggelam: suatu keadaan dimana terjadi asfiksia yang menyebabkan kematian akibat udara atmosfer tidak bisa memasuki saluran pernafasan, karena sebagian atau seluruh tubuh berada di dalam media cairan; tubuh harus berada di dalam air sehingga udara tidak mungkin bisa memasuki saluran pernafasan.

PENGGANTUNGAN

Definisi
Penggantungan adalah keadaan dimana leher dijerat dengan ikatan, daya jerat ikatan tersebut memanfaatkan berat badan tubuh atau kepala.
Jenis penggantungan:
1)     Penggantungan lengkap
2)     Penggantungan parsial
3)     Penggantungan atipikal, dimana saat penggantungan korban terjatuh dari anak tangga yang sedang dinaikinya.

Penggantungan parsial
Istilah ini digunakan jika beban berat badan tubuh tidak sepenuhnya menjadi kekuatan daya jerat tali, misalnya pada korban yang tergantung dengan posisi berlutut. Pada kasus tersebut berat badan tubuh tidak seluruhnya menjadi gaya berat sehingga disebut penggantungan parsial
Bahan yang digunakan biasanya tali, ikat pinggang, kain, dll.
Gejala:
Pada kebanyakan kasus korbannya meninggal. Gejalanya yang penting sehubungan dengan penggantungan adalah:
1)     Kehilangan tenaga dan perasaan subyektif
2)     Perasaan melihat kilatan cahaya
3)     Kehilangan kesadaran, bisa disertai dengan kejang-kejang
4)     Keadaan tersebut disertai dengan berhentinya fungsi jantung dan pernafasan

Penyebab kematian pada penggantungan

1)     Asfiksia. Merupakan penyebab kematian yang paling sering
2)     Apopleksia (kongesti pada otak). Tekanan pada pembuluh darah vena menyebabkan kongesti pada pembuluh darah otak dan mengakibatkan kegagalan sirkulasi
3)     Kombinasi dari asfiksia dengan apopleksia
4)     Iskemia serebral. Hal ini akibat penekanan dan hambatan pembuluh darah arteri yang memperdarahi otak
5)     Syok vaso vagal. Perangsangan pada sinus caroticus menyebabkan henti jantung
6)     Fraktur atau dislokasi vertebra servikalis. (Pada korban yang dihukum gantung). Pada keadaan dimana tali yang menjerat leher cukup panjang, kemudian korbannya secara tiba-tiba dijatuhkan dari ketinggian 1,5–2 meter maka akan mengakibatkan fraktur atau dislokasi vertebra servikalis yang akan menekan medulla oblongata dan mengakibatkan terhentinya pernafasan. Biasa yang terkena adalah vertebra servikalis ke-2 dan ke-3.
Periode fatal
Pada pelaksanaan hukuman gantung, kematian terjadi dengan seketika. Pada kasus gantung diri, kematian tidak langsung terjadi dan sedikit memakan waktu. Pada penggantungan parsial, kematian mendadak terjadi dalam 5 menit.

Penatalaksanaan pada kasus penggantungan yang masih hidup

1)     Korbannya diturunkan
2)     Ikatan pada leher dipotong dan jeratan dilonggarkan
3)     Berikan bantuan pernafasan untuk waktu yang cukup lama
4)     Lidah ditarik keluar, lubang hidung dibersihkan jika banyak mengandung sekresi cairan
5)     Berikan oksigen, lebih baik lagi kalau disertai CO5%
6)     Jika korban mengalami kegagalan jantung kongestif, pertolongan melalui venaseksi mungkin akan membantu untuk mengatasi kegagalan jantung tersebut
7)     Berikan obat-obat yang perlu (misalnya Coramine)
8)     Gejala sisa: hemiplegia, amnesia, demensia, bronkhitis, selulitis, parotitis.

Gambaran post-mortem

Pemeriksaan luar

1)     Tanda penjeratan pada leher. Hal ini sangat penting diperhatikan oleh dokter, dan keadaannya bergantung kepada beberapa kondisi:
a.       Tanda penjeratannya jelas dan dalam jika tali yang digunakan kecil dibandingkan jika menggunakan tali yang besar
b.      Bentuk jeratannya berjalan miring (oblik) pada bagian depan leher, dimulai pada leher bagian atas diantara kartilago tiroid dengan dagu, lalu berjalan miring sejajar dengan garis rahang bawah menuju belakang telinga. Tanda ini semakin tidak jelas pada bagian belakang
c.       Tanda penjeratan tersebut berwarna coklat gelap dan kulit tampak kering, keras dan berkilat. Pada perabaan, kulit terasa seperti perabaan kertas perkamen, disebut tanda parchmentisasi
d.      Pada tempat dimana terdapat simpul tali yaitu pada kulit di bagian bawah telinga, tampak daerah segitiga pada kulit di bawah telinga
e.       Pinggirannya berbatas tegas dan tidak terdapat tanda-tanda abrasi di sekitarnya
f.       Jumlah tanda penjeratan. Kadang-kadang pada leher terlihat 2 buah atau lebih bekas penjeratan. Hal ini menunjukkan bahwa tali dijeratkan ke leher sebanyak 2 kali
2)     Kedalaman dari bekas penjeratan menunjukkan lamanya tubuh tergantung
3)     Jika korban lama tergantung, ukuran leher menjadi semakin panjang
4)     Tanda-tanda asfiksia. Mata menonjol keluar, perdarahan berupa petekia tampak pada wajah dan subkonjungtiva. Lidah menjulur menunjukkan adanya penekanan pada bagian leher
5)     Air liur mengalir dari sudut bibir di bagian yang berlawanan dengan tempat simpul tali. Keadaan ini merupakan tanda pasti penggantungan ante-mortem
6)     Lebam mayat paling sering terlihat pada tungkai
7)     Posisi tangan biasanya dalam keadaan tergenggam
8)     Urin dan feses bisa keluar

Pemeriksaan dalam

1.     Jaringan yang berada di bawah jeratan berwarna putih, berkilat dan perabaan seperti perkamen karena kekurangan darah, terutama jika mayat tergantung cukup lama. Pada jaringan di  bawahnya  mungkin tidak terdapat cedera lainnya
2.     Platisma atau otot lain di sekitarnya mungkin memar atau ruptur pada beberapa keadaan. Kerusakan otot ini lebih banyak terjadi pada kasus penggantungan yang disertai dengan tindakan kekerasan
3.     Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi ataupun ruptur. Resapan darah hanya terjadi di dalam dinding pembuluh darah
4.     Fraktur tulang hyoid jarang terjadi. Fraktur ini biasanya terdapat pada penggantungan yang korbannya dijatuhkan dengan tali penggantung yang panjang dimana tulang hyoid mengalami benturan dengan tulang vertebra. Adanya efusi darah di sekitar fraktur menunjukkan bahwa penggantungannya ante-mortem.
5.     Fraktur kartilago tiroid jarang terjadi
6.     Fraktur 2 buah tulang vertebra servikalis bagian atas. Fraktur ini sering terjadi pada korban hukuman gantung.

Aspek medikolegal

1.     Apakah kematian disebabkan oleh penggantungan? Pertanyaan ini sering diajukan kepada dokter pemeriksa dalam persidangan. Hal ini dapat diperkirakan melalui pemeriksaan seperti di bawah ini:
2.     Apakah penggantungan tersebut merupakan bunuh diri, pembunuhan atau kecelakaan? Beberapa faktor di bawah ini dapat dijadikan bahan pertimbangan.
a.       Penggantungan biasanya merupakan tindakan bunuh diri, kecuali dibuktikan lain. Usia tidak menjadi masalah untuk melakukan bunuh diri dengan cara ini. Pernah ada laporan kasus dimana seorang anak berusia 12 tahun melakukan bunuh diri dengan penggantungan. Kecelakaan yang menyebabkan penggantungan jarang terjadi kecuali pada anak-anak di bawah usia 12 tahun
b.      Cara terjadinya penggantungan
c.       Bukti-bukti tidak langsung di sekitar tempat kejadian
d.      Tanda berupa jejas penjeratan
e.       Tanda-tanda kekerasan atau perlawanan

Lynching
Lynching merupakan tindakan hukuman gantung tanpa pengadilan yang hanya terjadi di Amerika Selatan. Jika seorang negro melakukan pelanggaran berat, dia dihukum mati dengan cara digantung pada pohon atau tiang lampu, sehingga bisa dipertontonkan sebagai peringatan bagi yang lain.

Perbedaan antara penggantungan antemortem dan postmortem
No
Penggantungan antemortem
Penggantungan postmortem
1
Tanda-tanda penggantungan ante-mortem bervariasi. Tergantung dari cara kematian korban
Tanda-tanda post-mortem menunjukkan kematian yang bukan disebabkan penggantungan
2
Tanda jejas jeratan miring, berupa lingkaran terputus (non-continuous) dan letaknya pada leher bagian atas
Tanda jejas jeratan biasanya berbentuk lingkaran utuh (continuous), agak sirkuler dan letaknya pada bagian leher tidak begitu tinggi
3
Simpul tali biasanya tunggal, terdapat pada sisi leher
Simpul tali biasanya lebih dari satu, diikatkan dengan kuat dan diletakkan pada bagian depan leher
4
Ekimosis tampak jelas pada salah satu sisi dari jejas penjeratan. Lebam mayat tampak di atas jejas jerat dan pada tungkai bawah
Ekimosis pada salah satu sisi jejas penjeratan tidak ada atau tidak jelas. Lebam mayat terdapat pada bagian tubuh yang menggantung sesuai dengan posisi mayat setelah meninggal
5
Pada kulit di tempat jejas penjeratan teraba seperti perabaan kertas perkamen, yaitu tanda parchmentisasi
Tanda parchmentisasi tidak ada atau tidak begitu jelas
6
Sianosis pada wajah, bibir, telinga, dan lain-lain sangat jelas terlihat terutama jika kematian karena asfiksia
Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga dan lain-lain tergantung dari penyebab kematian
7
Wajah membengkak dan mata mengalami kongesti dan agak menonjol, disertai dengan gambaran pembuluh dara vena yang jelas pada bagian kening dan dahi
Tanda-tanda pada wajah dan mata tidak terdapat, kecuali jika penyebab kematian adalah pencekikan (strangulasi) atau sufokasi
8
Lidah bisa terjulur atau tidak sama sekali
Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus kematian akibat pencekikan
9
Penis. Ereksi penis disertai dengan keluarnya cairan sperma sering terjadi pada korban pria. Demikian juga sering ditemukan keluarnya feses
Penis. Ereksi penis dan cairan sperma tidak ada. Pengeluaran feses juga tidak ada
10
Air liur. Ditemukan menetes dari sudut mulut, dengan arah yang vertikal menuju dada. Hal ini merupakan pertanda pasti penggantungan ante-mortem
Air liur tidak ditemukan yang menetes pad kasus selain kasus penggantungan.


Perbedaan penggantungan pada bunuh diri dan pada pembunuhan
No
Penggantungan pada bunuh diri
Penggantungan pada pembunuhan
1
Usia. Gantung diri lebih sering terjadi pada remaja dan orang  dewasa. Anak-anak di bawah usia 10 tahun atau orang dewasa di atas usia 50 tahun jarang melakukan gantung diri
Tidak mengenal batas usia, karena tindakan pembunuhan dilakukan oleh musuh atau lawan dari korban dan tidak bergantung pada usia
2
Tanda jejas jeratan, bentuknya miring, berupa lingkaran terputus (non-continuous) dan terletak pada bagian atas leher
Tanda jejas jeratan, berupa lingkaran tidak terputus, mendatar, dan letaknya di bagian tengah leher, karena usaha pelaku pembunuhan untuk membuat simpul tali
3
Simpul tali, biasanya hanya satu simpul yang letaknya pada bagian samping leher
Simpul tali biasanya lebih dari satu pada bagian depan leher dan simpul tali tersebut terikat kuat
4
Riwayat korban. Biasanya korban mempunyai riwayat untuk mencoba bunuh diri dengan cara lain
Sebelumnya korban tidak mempunyai riwayat untuk bunuh diri
5
Cedera. Luka-luka pada tubuh korban yang bisa menyebabkan kematian mendadak tidak ditemukan pada kasus bunuh diri
Cedera berupa luka-luka pada tubuh korban biasanya mengarah kepada pembunuhan
6
Racun. Ditemukannya racun dalam lambung korban, misalnya arsen, sublimat korosif dan lain-lain tidak bertentangan dengan kasus gantung diri. Rasa nyeri yang disebabkan racun tersebut mungkin mendorong korban untuk melakukan gantung diri
Terdapatnya racun berupa asam opium hidrosianat atau kalium sianida tidak sesuai pada kasus pembunuhan, karena untuk hal ini perlu waktu dan kemauan dari korban itu sendiri. Dengan demikian maka kasus penggantungan tersebut adalah karena bunuh diri
7
Tangan tidak dalam keadaan terikat, karena sulit untuk gantung diri dalam keadaan tangan terikat
Tangan yang dalam keadaan terikat mengarahkan dugaan pada kasus pembunuhan
8
Kemudahan. Pada kasus bunuhdiri, mayat biasanya ditemukan tergantung pada tempat yang mudah dicapai oleh korban atau di sekitarnya ditemukan alat yang digunakan untuk mencapai tempat tersebut
Pada kasus pembunuhan, mayat ditemukan tergantung pada tempat yang sulit dicapai oleh korban dan alat yang digunakan untuk mencapai tempat tersebut tidak ditemukan
9
Tempat kejadian. Jika kejadian berlangsung di dalam kamar, dimana pintu, jendela ditemukan dalam keadaan tertutup dan terkunci dari dalam, maka kasusnya pasti merupakan bunuh diri
Tempat kejadian. Bila sebaliknya pada ruangan ditemukan terkunci dari luar, maka penggantungan adalah kasus pembunuhan
10
Tanda-tanda perlawanan, tidak ditemukan pada kasus gantung diri
Tanda-tanda perlawanan hampir selalu ada kecuali jika korban sedang tidur, tidak sadar atau masih anak-anak.

 

Rangkuman langkah-langkah identifikasi kematian mendadak karena penggantungan

(Gambaran post-mortem)

1. Pemeriksaan Luar



1
Memeriksa tanda penjeratan pada leher
2
Memeriksa kedalaman bekas penjeratan untuk menunjukkan lamanya tubuh tergantung
3
Memeriksa ukuran leher korban yang tergantung
4
Memeriksa tanda-tanda asfiksia.
5
Memeriksa air liur yang mengalir dari sudut bibir di bagian yang berlawanan dengan tempat simpul tali
6
Memeriksa adanya lebam mayat dan posisinya
7
Memeriksa posisi tangan dan jemari
8
Memeriksa urin dan feses yang keluar

                             

2. Pemeriksaan Dalam




1
Memeriksa jaringan yang berada di bawah jeratan (tanda perkamen)
2
Memeriksa platisma atau otot lain di sekitarnya
3
Memeriksa lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah
4
Memeriksa fraktur tulang hyoid dan adanya efusi darah di sekitar fraktur
5
Memeriksa fraktur kartilago tiroid
6
Memeriksa fraktur 2 buah tulang vertebra servikalis bagian atas
 
PETUNJUK PELAKSANAAN KETERAMPILAN MEDIK TANATOLOGI DAN IDENTIFIKASI KEMATIAN MENDADAK

1.     Pelajarilah uraian mengenai tanatologi dan identifikasi kematian mendadak di atas.
2.     Terapkan pemahaman tanatologi Anda dalam memecahkan kasus MEQ (Modified Essay Question) mengenai kasus-kasus kematian tidak wajar/mendadak.
3.     Pelajarilah kasus-kasus kematian mendadak selain penggantungan melalui referensi yang Anda miliki dan buatlah rangkuman langkah-langah pemeriksaan luar dan dalam seperti contoh rangkuman pemeriksaan kasus penggantungan di atas. Misalnya untuk kasus:
1      Infanticid
2      Suicide dengan benda tajam
3      Suicide dengan karbon monoksida (CO)
4      Kasus keracunan karbamat, potassium dan insektisida lainnya
5      Keracunan Sianida
6      Keracunan Arsen
7      Trauma Berat pada Kepala, Thorax atau abdomen
8      Abortus provokatus kriminalis (Ibu meninggal)
9      Kasus penembakan (ballistik)
10    Pembunuhan dengan mutilasi
11    Kematian mendadak pada pasien dengan riwayat sakit kronis/akut
12    Dan lain sebagainya
4.     Presentasikan di hadapan kelompok Anda untuk dikritisi bersama.
5.     Ujian Keterampilan Medik Tanatologi dilakukan secara tertulis dalam bentuk MEQ.

DAFTAR PUSTAKA

1.     Anonim, Sudden Unexpected Death: Causes and Contributing Factors, http//:www.forensic.com

2.     Idries, A.M., 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi 1, Binarupa Aksara, Jakarta.

3.     Nurhantari, Y., 2005. Tanatologi. Makalah pada Pelatihan Instruktur Blok Medikolegal FK UII, Yogyakarta. Tidak dipublikasikan.

4.     Soegandhi, R., 2001. Arti Dan Makna Bagian-Bagian Visum Et Repertum. Ed.-2 Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK UGM, Yogyakarta


5.     Soegandhi, R. , 2001. Pedoman Pemeriksaan Jenazah Forensik dan Kesimpulan Visum et Repertum di RSUP Dr. Sardjito. Ed-2. Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FK UGM, Yogyakarta

0 comments:

Post a Comment