Skip to main content

Kolangitis

Kolangitis merupakan suatu kondisi infeksi di ductus biliaris communis, saluran yang membawa cairan empedu dari liver menuju kantung empedu dan usus. Cairan empedu merupakan cairan yang dihasilkan oleh hati untuk membantu dalam pencernaan makanan.

Penyebab
Kolangitis sering disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Ini dapat terjadi saat saluran empedu tersebut terhalang oleh sesuatu, misalkan batu empedu atau tumor. Infeksi yang menyebabkan kondisi ini dapat juga menyebar ke hati. Faktor resiko yang dapat menyebabkan kondisi ini termasuk adanya riwayat batu empedu sebelumnya, sklerosing kolangitis, HIV, penyempitan ductus biliaris komunis, dan saat bepergian ke wilayah yang angka infeksinya tinggi terutama infeksi cacing atau parasit.

Gejala dan Tanda
Gejala dan tanda yang mungkin muncul pada penyakit ini diantaranya :
  • Rasa nyeri di sisi kanan atas atau tengah atas dari abdomen. Terkadang terasa pula di belakang atau tepatnya bawah bahu kanan. Rasa nyeri dapat hilang timbul dan terasa tajam, terasa seperti kram otot. 
  • Disertai demam dan terkadang rasa menggigil 
  • Urine terlihat lebih gelap dan feses berwarna seperti dempul 
  • Adanya rasa mual dan muntah 
  • Kulit tampak kuning (ikterik/jaundice), terkadang terlihat hilang timbul 
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dapat dengan melakukan pemeriksaan darah di laboratorium, untuk melihat kadar bilirubin darah, kadar enzim hati, sel darah putih. Pemeriksaan penunjang lainnya yang perlu dilakukan untuk dapat memperkuat diagnosis diantaranya :
  • USG Abdomen 
  • ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography) 
  • MRCP (Magnetic Resonance Cholangiopancreatography) 
  • PTCA (Percutaneous Transhepatic Cholangiogram) 
Penatalaksanaan
Diagnosis dan pemberian terapi sedini mungkin sangat penting untuk keberhasilan penanganan penyakit ini. Pemberian antibiotik untuk mengatasi masalah infeksi yang terjadi merupakan terapi yang pertama sering dilakukan dalam banyak kasus.

Comments

Popular posts from this blog

Langkah Awal Resusitasi Neonatus dengan HAIKAL

Dalam melakukan tindakan resusitasi neonatus, perlu kita perhatikan kesiapan semua aspek. Mulai dari kesiapan alat, kesiapan penolong, kesiapan ruangan, kesiapan tim, bahkan kesiapan dari keluarga untuk mengantisipasi semua hal yang dapat terjadi pada saat proses persalinan. Neonatus dilahirkan ke dunia butuh proses untuk mengadaptasikan dirinya yang awalnya berada intrauterine untuk menjadi tumbuh dan berkembang secara ekstrauterine. Semua itu butuh kesiapan dari seluruh organ yang ada di dalam tubuhnya untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru.

Penilaian VTP Tidak Efektif dengan SRIBTA

Ada kalanya dalam melakukan tindakan resusitasi neonatus kita memerlukan tindakan pemberian ventilasi tekanan positif (VTP) dikarenakan kondisi pernafasan bayi belum adekuat untuk bisa bertahan hidup dalam proses adaptasinya dengan lingkungan ekstrauterine. Pemberian VTP diindikasikan pada kondisi berikut, yaitu pertama terjadinya pernafasan yang megap-megap dari bayi atau apneu. Yang kedua, walau bayi dapat bernafas spontan, namun frekuensi jantung kurang dari 100x/menit. Selanjutnya, yang ketiga, SpO2 yang terukur berada di bawah target SpO2 walaupun sudah diberikan O2 aliran bebas.

Rekomendasi Suplementasi Besi untuk Anak (IDAI, 2011)

Prevalens anemia defisiensi besi (ADB) pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%. Angka ini tergolong angka prevalensi yang cukup besar. Oleh karena itu, penting untuk mencegah terjadinya anemia defisiensi besi tersebut. Adanya anemia defisiensi besi akan dapat menurunkan kualitas hidup anak. Penting untuk dilakukan pencegahan terjadinya hal tersebut.